Thursday, August 31, 2017

11 Tempat Ngopi Enak di Bandung



location : yumaju coffee

Entah sejak kapan tepatnya saya menjadi seorang penikmat kopi. Mulai dari kopi sachet yang biasa dibeli di warung-warung (yang kemudian bertobat, berhenti menyeduh kopi instan ketika tahu kandungan di dalamnya lebih banyak gula dan pemanis buatannya dibandingkan kopinya), hingga mencoba tempat-tempat ngopi enak di Bandung menjadi hal yang menarik buat saya. Agenda meet up dengan teman-teman pun biasanya tidak jauh dari ngopi-ngopi cantik di coffee shop yang cozy dan enak buat ngobrol.

Masalahnya, kadang kalau ada teman dari luar kota yang nanya, ngopi di Bandung yang enak di mana ya? Seringnya saya blank terus ujung-ujungnya buka IG lagi, buka-buka trip advisor lagi, kok ya ribet amat deh. Jadi saya mau coba bikin list deh tempat ngopi enak di Bandung versi saya.

But Please, don’t put your expectation too high, saya hanya suka minum kopi dan nggak ahli menilai kopi mana yang enak dan yang biasa aja. List yang saya buat ini ‘kopi enak’ secara general, artinya masih oke di lidah dan worth it to try lah ya..

1. Nulis sambil ngopi cantik di Yumaju Coffee

Belum lama buka tapi saya langsung jatuh cinta begitu pertama kali datang ke Yumaju Coffee. Lokasinya di Jl. Maulana Yusuf No 10, tepat di sebelah Black Pepper resto. Tempatnya mungil, comfy, dan private. Yes, makanya cocok banget buka laptop dan nulis di sini. Biarpun nggak selalu sepi, entah kenapa karakteristik pengunjungnya nggak berisik dan kadang asyik sendiri dengan kerjaan masing-masing. Recommended buat kamu yang doyan ngopi sendirian.

area indoor & outdoor yumaju coffee yang cozy banget. 
pic source : https://www.instagram.com/yumajucoffee/


2. Tempat ngopi yang instagramable di Kozi Lab

Tempatnya nggak terlalu besar sih memang, tapi banyak spot kece buat foto dan pastinya instagram-able. Berlokasi di Jl Gudang Selatan No. 22 dan mengambil tempat di sebuah bekas gudang membuat Kozi Lab jadi semakin unik. Bagi yang suka baca, kozi lab juga punya koleksi buku yang lumayan banyak. Baca buku sambil ngopi di sana pasti deh bikin kamu makin betah. Oh ya, mereka juga sudah memiliki beberapa cabang versi 2.0 di Bukit Dago Utara, versi 3.2 di hotel Malaka, dan versi 3.7 di Jakarta. Untuk info lengkapnya langsung aja follow IG nya di @kozi.lab

tampak luar Kozi Lab versi 1.0 berasa di gudang banget kan? hehe..


semua sudutnya kece sih di sini buat foto

3. Ngadem di Kedai Matahari

Sebenarnya kedai matahari ini bukan spesifik tempat ngopi sih, tapi saking sukanya saya sama tempat ini, jadi agak subjektif deh masukin kedai matahari di list tempat ngopi enak favorite saya. Mengambil lokasi di Jl Dago Pakar Barat No.3, kedai matahari ini masih bagian dari Eco learning camp yang terletak di sebelahnya. Makanya konsepnya sangat ramah lingkungan dan mencintai alam. Uniknya di sini, semua makanan yang disajikan didapat dari hasil eco camp mereka sendiri. Kalau berkunjung di sini, jangan lupa baca peraturan yang ada di setiap meja, yaitu kamu harus membersihkan bekas makanan kamu sendiri dan meletakkan di tempat yang telah disediakan. Saya sih suka banget tempatnya yang adem, sejuk, nggak terlalu ramai dan rasanya menyatu dengan alam. Semua makanan dan minumannya juga enak dan bersahabat di kantong.


jangan lupa baca aturan yang ada di setiap meja ya :)

4. Noah’s Barn – yang katanya coffee shop hipster pertama di Bandung

Kalau saya nggak salah, Noah’s Barn merupakan coffee shop hipster pertama di kota Bandung. Di sini pertama kalinya saya pesen makanan dan minumannya langsung ke bar (yah mirip kalau kita ke starbucks atau resto siap saji) dan bukan angkat tangan minta menu ke waitress. Lokasinya agak nyempil di Jl. Garuda No. 39. Mereka kemudian buka tempat yang lebih besar dan menyerupai restoran di Jl. Dayang Sumbi. Keduanya nggak pernah sepi pengunjung. Saya pribadi sih tetap lebih suka Noah’s Barn di tempat lama. Lebih comfy dan homey rasanya.

ini noah barn yang di Garuda. Lebih homey sih rasanya
pic source :  https://www.instagram.com/noahsbarncoffeenery/ 

5. Two Hands Full – untuk si pecinta kopi

Beberapa teman pecinta kopi bilang, two hands full punya kopi yang kualitasnya merupakan salah satu yang terbaik di Bandung. Saya sendiri selain ngopi suka sama makanan-makanannya. Mereka punya pouch egg yang super yummy. Berlokasi di Jln Sukajadi No 198A, Two Hands Full wajib dicoba bagi kamu pecinta kopi.
area bar di tengah cafe yang serba terbuka
pic source : https://www.instagram.com/thfcoffee/

pouched egg dan smash avocado yang nggak pernah bisa ditolak.
pic source : https://www.instagram.com/thfcoffee/

6. Tempat ngopi berpintu biru - Blue Doors

Sesuai namanya, tempat ngopi yang terletak di jln Gandapura No. 61 ini punya pintu berwarna biru. Tempatnya tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk ngopi-ngopi dan ngobrol. Selain kopi, mereka juga menyajikan aneka cake dan makanan yang cocok untuk jadi teman ngopi kamu.
pic source : https://www.instagram.com/blue_doors/

pic source : https://www.instagram.com/blue_doors/


7. Ngopi with a View di Eugene The Goat

Kepengen ngopi sambil menikmati indahnya pemandangan kota Bandung, Eugene The Goat ini bisa jadi rekomendasi. Letaknya di Jl. Awiligar Raya II No. 2, persis di lobi Clove Garden Hotel Bandung. Sayangnya akses jalan menuju tempat ini masih agak rusak, dengan jalan menanjak berasa lagi perjalanan ke luar kota deh. Kalau soal rasa, nggak usah diragukan deh. Secangkir hot latte bisa jadi pilihan tepat sambil menikmati indah dan sejuknya pemandangan kota Bandung.

https://www.instagram.com/thegoat.eugene/

https://www.instagram.com/thegoat.eugene/

8. Mimiti Coffee – tempat ngopi kekinian dan ngehits di Bandung

Sepengetahuan saya, tempat ngopi yang berlokasi di Jl. Karang Sari No.1 ini nggak pernah sepi pengunjung. Jadi tempat ngopi paling hits dan kekinian di Bandung, mimiti coffee juga ramai dikunjungi oleh turis domestik terutama dari Jakarta (berdasarkan pengamatan aja ya). Punya area indoor dan outdoor yang cozy banget untuk menyeruput kopi atau sekedar nongkrong bareng sahabat. Mimiti Coffee juga punya spot foto yang instagramable banget, nggak ngerti juga sih kenapa hampir semua yang datang pasti foto ala-ala di situ. Saya sendiri nggak sempet foto, antri banget soalnya hehe..

pic source : https://www.instagram.com/mimiticoffee/

pic source : https://www.instagram.com/mimiticoffee/

ini nih yang katanya spot wajib buat foto.. emang kece sih ya.
pic source : https://www.instagram.com/mimiticoffee/

9. Rame tapi nggak berisik di Sejiwa Coffee

Satu lagi tempat ngopi yang lagi ngehits dan kekinian, namanya Sejiwa Coffee. Lokasinya strategis banget nih, di Jl Progo No. 15 tepat di seberang hummingbird/ kopi progo. Dengan lokasinya yang berada di area cafe dan factory outlet terkenal di Bandung, nggak heran kalau sejiwa coffee ini selalu ramai. But don’t worry, tempatnya cukup luas dan karakteristik pengunjungnya juga nggak berisik alias nggak kebanyakan ABG kinyis-kinyis yang gaduh. Jadi kalaupun kamu datang untuk ngopi sendiri sambil bawa kerjaan masih oke kok. Menu makanan dan minumannya juga ada banyak dan bervariasi mulai dari western food sampai Indonesian food. Kopi, teh, susu juga lengkap. Oh ya, tempat ngopi yang didominasi oleh warna putih ini juga punya banyak spot kece untuk foto yang pastinya instagram-able.
barista di sejiwa coffee dengan seragamnya yang mirip jas lab
pic source :https://www.instagram.com/sejiwacoffee/


pic source : https://www.instagram.com/sejiwacoffee/

10. Ngopi sambil menikmati karya Seni di Kopi Selasar Sunaryo

Selasar Sunaryo Art and Space merupakan galeri seni milik seniman Sunaryo yang sudah ada sejak tahun 1998. Bangunan ini terdiri dari galeri seni, ruang pameran, amphiteater, aula diskusi, mess seniman, dan kedai kopi. Coffee shop-nya sendiri berada di teras selasar berhadapan dengan pegunungan dan bukit-bukit sekitar Bandung. Bagi kamu pecinta seni atau mau sekedar lihat-lihat karya seni yang menarik, wajib dicoba deh berkunjung ke tempat ini. Setelah puas berkeliling, duduk ngopi santai sambil melihat view kota Bandung pasti nikmat banget deh. Jangan lupa untuk mencicipi kopi selasar, yaitu sajian kopi hitam dengan latte art ditambah jahe yang ditusuk di bambu.

selain ngopi dan liat-liat karya seni, foto ala-ala candid dikit boleh lah ya

11. Ngopi sambil ngemil di Kopi Kodok

Masih di daerah utara kota Bandung, ada satu lagi tempat ngopi yang asyik sambil ngemil-ngemil ala warung kopi, namanya kopi kodok. Tempatnya enak banget, ada area indoor dengan sofa-sofa nyaman warna-warni dan area outdoor dengan kursi-kursi kayu yang cantik. Menu kopinya juga macam-macam, mulai dari latte, cold brew, vietnam coffee, sampai kopi luwak pun ada. Makanan yang tersedia di sini adalah menu Indonesian food seperti nasi goreng, pisang keju, bala-bala hingga macam-macam indomie. Buat kamu yang lagi wisata ke daerah Lembang, boleh juga mampir ke kopi kodok yang berlokasi di Jl Sersan Bajuri No. 53, Bandung.

area luar kopi kodok dengan mural di dinding yang eye catchy banget 




Jadi, ngopi di mana kita hari ini??


Friday, August 4, 2017

Indahnya Danau Kelimutu yang Mendunia






Danau Kelimutu yang pernah jadi gambar di uang pecahan lima ribu rupiah edisi lama menjadi salah satu bucket list tempat yang ingin saya kunjungi. Beruntung, ketika melakukan perjalanan #exploreflores beberapa waktu yang lalu, impian saya untuk jalan-jalan ke Danau Kelimutu akhirnya terwujud.

Melawan rasa dingin yang menusuk, mengabaikan kaki yang masih lelah setelah perjalanan panjang sebelumnya, saya pun bersiap untuk menyambut matahari terbit di Danau Kelimutu.

Keunikan Danau Kelimutu
Danau Kelimutu atau yang dikenal juga dengan sebutan Danau Tiga Warna, terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Disebut Danau Tiga Warna karena Danau ini memiliki tiga warna yang berbeda. Waktu saya ke sana, Danau Kelimutu sedang berwarna hijau tosca, hijau tua, dan hitam pekat. Konon katanya warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Ada yang bilang warna danau mencerminkan kondisi negara kita, Indonesia. Jika berwarna merah berarti negara kita sedang dalam masalah. Namun jika berwarna biru, negara kita sedang dalam kondisi yang stabil.

Berdasarkan penjelasan ilmiah, warna di Danau Kelimutu yang berubah-ubah ini dipengaruhi oleh kandungan mineral, pengaruh bebatuan, lumut di dalam kawah, dan cahaya matahari. Sementara itu, suku Lio di Flores percaya bahwa Danau Kelimutu merupakan tempat persemayaman terakhir dari jiwa-jiwa yang sudah meninggal.

Rute menuju Danau Kelimutu
Dari Jakarta kita bisa menggunakan penerbangan terlebih dahulu ke Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur (Bandara El Tari) kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke Ende (Bandara H Hasan Aroeboesman). Setibanya di Ende, perjalanan dilanjutkan bisa dengan menggunakan angkutan umum berupa taksi avanza, minibus, atau ojek menuju Moni. Desa Moni merupakan desa terdekat dengan Danau Kelimutu. Jangan kaget ketika sampai di Ende, kita akan disambut oleh penduduk lokal yang menawarkan jasanya untuk mengantar kita ke Moni. Tinggal pilih-pilih yang paling nyaman dan sesuai budget ya. Saya menggunakan taksi avanza dengan biaya Rp. 150.000,- sekali jalan. Siap-siap juga menikmati perjalanan Ende-Kelimutu yang berkelok-kelok dan curam. Pemandangan tebing-tebing, jurang, dan hutan akan kita lihat sepanjang jalan.

Sedikit Cerita Perjalanan ke Danau Kelimutu
Ada beberapa pilihan untuk mengejar sunrise di Danau Kelimutu. Pilihan pertama adalah menginap di Ende dan menyewa mobil langsung ke Danau Kelimutu. Ini berarti kkita harus berangkat dari Ende sekitar jam 1 pagi. Pilihan kedua adalah menginap di Moni. Butuh waktu sekitar 30 menit berkendara dari Moni menuju pintu masuk pendakian Taman Nasional Kelimutu. Sudah ada banyak homestay dan penginapan di Moni dengan harga yang relatif terjangkau. Dari Moni kita bisa sewa motor, sewa mobil, atau naik ojek menuju Danau Kelimutu.

Saya memilih alternatif yang kedua untuk menghemat waktu. Sehari sebelumnya saya menginap di Christin Lodge, di Moni seharga Rp. 200.000,- /malam. Sekitar pukul 3 pagi, saya sudah bersiap-siap untuk memulai perjalanan ke Danau Kelimutu. Dengan bantuan Bapak pemilik penginapan, yang juga mengantarkan saya dari Ende ke Moni, saya cukup membayar Rp. 150.000,- untuk PP Moni-Kelimutu dengan menggunakan mobil.

Sesampainya di pintu masuk, kita perlu membayar HTM Rp. 5000/ orang untuk wisatawan lokal. Jarak tempuh menuju puncak sekitar 2 KM atau sekitar 30 menit berjalan kaki. Waktu saya ke sana tidak ada guide lokal yang menemani. Untungnya ketika saya datang ada beberapa turis asing yang juga akan mengejar sunrise, jadi kami pergi bersama berbekal senter kecil dan cahaya dari HP masing-masing. Jalur menuju puncak juga tidak sulit. Jalannya sudah baik dengan papan-papan petunjuk jalan yang jelas.


Jalur yang dilalui menuju puncak


Danau yang pertama kita jumpai adalah Tiwu Ata Polo, danau yang diyakini tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup melakukan kejahatan/ tenung. Selanjutnya ada Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Yang ketiga adalah Danau Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya roh-roh leluhur atau orang tua yang telah meninggal. Setiap tahunnya di Danau Kelimutu diadakan ritual adat Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata yaitu ritual untuk mengucap syukur atas tahun yang telah dilewati dan memohon berkat untuk tahun yang akan datang.

Tiwu Ata Mbupu

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai & Tiwu Ata Polo

 pedagang di area Danau Kelimutu

Sambil menunggu matahari terbit, kita bisa menyeruput secangkir kopi atau minuman hangat lainnya yang banyak dijual penduduk setempat di area sekitar danau. Dengan harap-harap cemas, saya menunggu matahari menampakkan wajahnya. Namun sayang, pagi itu agak mendung, sang surya pun tertutup awan dan kabut masih menyelimuti Danau Kelimut. Saya hampir saja kecewa. Tapi rupanya setiap langkah yang membawa saya ke Danau Kelimutu tidak sia-sia. Perlahan semburat jingga mulai terlihat di langit. Kabut tipis pun hilang dan memperlihatkan kemilau danau yang memantulkan cahaya mentari. Sang Surya telah menyapa dan memberi rasa hangat hingga ke hati, menyajikan pemandangan Danau Tiga Warna yang mempesona.


Selamat Pagi Kelimutu! Selamat Pagi Indonesia!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Travel Blogger Contest yang diadakan oleh www.sumber.com





Thursday, July 13, 2017

Movie Review Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody





Di postingan saya sebelumnya yang ini, saya sempat cerita kalau filosofi kopi 2 jadi film yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Alasannya simple sih, karena karakter Ben, Jody dan cerita persahabatan mereka yang meninggalkan kesan special buat saya.

Seneng banget, tanggal 12 Juli kemarin saya berkesempatan ikutan meet and greet sekaligus gala premierenya di Bandung. Bisa ketemu langsung sama dua aktor keren, Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, yang tidak hanya bersahabat di film tapi juga dalam kesehariannya, menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan.

Berbeda dengan filosofi kopi pertama yang diangkat dari kumpulan cerpen karya Dee Lestari dengan judul yang sama, kali ini filosofi kopi 2 adalah hasil pengembangan cerita dari penonton melalui lomba #NgeracikCerita.

Filosofi kopi 2 : Ben dan Jody, masih bercerita soal ambisi Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) yang kembali untuk membuka kedai kopi di Jakarta, setelah dua tahun sebelumnya menjual kedai dan berkeliling Indonesia dengan combie untuk mengenalkan kopi terbaik. Kalau soal sinopsis lengkap, silakan kamu bisa googling sendiri ya karena sudah banyak juga yang nulis di internet.

Kalau di Filosofi Kopi yang pertama hadir El (Julie Estelle) yang mewarnai persahabatan Ben dan Jody, kali ini ada tokoh-tokoh baru yaitu Tara (Luna Maya) yang muncul sebagai investor yang ikut terjun untuk membuka kedai di Jakarta dan Brie (Nadine Alexandra) barista lulusan Melbourne yang di awal cerita selalu berselisih dengan Ben. Kehadiran dua tokoh wanita di film ini memberikan warna baru bagi cerita yang pastinya lebih segar dengan bumbu cinta segi empat di antara mereka. Bagi saya pribadi sih nuansa drama percintaannya kurang terasa, adegan-adegan komedi romantisnya juga terasa kurang, mungkin memang sengaja dihadirkan hanya sebagai pelengkap.

Source : Facebook/Filosofi Kopi

Bicara soal chemistry antar pemain jelas paling kuat dirasakan antara Chicco dan Rio. Nggak banyak film yang sukses mengangkat cerita persahabatan ala-ala bromance di Indonesia. Mungkin kalau kamu pernah nonton bromance seperti Joey&Chandler (serial Friends), Dominic Toretto&Brian O’Connor (The Fast and Furious), Harry Potter&Ron Weasley, Boy&Andi (Catatan si Boy – jadul banget, jadi ketauan umurnya deh), Ben dan Jody ini bisa menjawab kerinduan kita dengan cerita persahabatan antar cowok-cowok yang maskulin, lucu, dan punya impian masing-masing.

Source : Facebook/Filosofi Kopi

Yang saya suka dari Filosofi kopi 2, karakter Ben dan Jody mengalami perkembangan. Persahabatan mereka lebih mature, lebih berani untuk memperjuangkan mimpi masing-masing tanpa mengorbankan persahabatan.

“Memang salah ya kalau kita memperjuangkan apa yang pantas jadi milik kita?“ 
"Jod, nggak semua hal lo harus mengalah dari Ben. Kayak dulu lo mengalah soal El.” 

Salah seorang sahabat saya pernah menulis ini di caption Instagramnya :
Dalam setiap hubungan pasti ada pasang surutnya. Mau itu dengan pasangan, orang tua, apalagi sahabat. That’s what makes your relationship alive. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan ketika hubungan itu sedang turun? Meminta maaf, menghubungi mereka, mengiyakan ajakan bertemu, tetap menjadi diri sendiri dan menjadi pribadi yang lebih baik. When you lose their track, catch up. Cause real friends don’t have to talk everyday, but when you call, they answer.

Seperti Ben dan Jody yang tidak selalu bersama karena pada akhirnya tetap harus melanjutkan hidup masing-masing, tapi persahabatan mereka tetap kuat adanya.

Habis nonton ini saya sih jadi inget sahabat-sahabat saya, my support system yang sekarang mungkin udah mencar ke mana-mana, yang kadang berantem tapi tetep nggak bisa marah lama-lama. Jadi inget papa juga (adegan antara Ben dan bapaknya juga keren banget di film ini), yang nggak ada so sweet-so sweet nya sama sekali tapi saya tahu dia sayang banget sama saya.

So guys, enjoy the movie with your special one, bisa sahabat, keluarga, pacar, atau kalau pun harus dinikmati sendiri, film ini dapat dinikmati layaknya kamu menikmati secangkir kopi favorit. Karena setiap hal yang punya rasa, pasti punya nyawa.





Friday, July 7, 2017

Menelusuri Indahnya Desa Tenganan, Bali





Terakhir kali saya jalan-jalan ke Bali beberapa waktu yang lalu, saya banyak nyobain hal baru. Mulai dari berburu seafood di pasar yang sudah saya ceritakan di sini, dan mengunjungi salah satu desa tradisional di Bali, yaitu desa Tenganan. Terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem atau berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Denpasar, Desa Tenganan merupakan salah satu desa dari tiga desa Bali Aga, selain Trunyan dan Sembiran.

Bali Aga atau Bali asli adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup tradisional yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunannya, pengaturan letak bangunan hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat secara turun temurun (source : wikipedia).




Monday, June 19, 2017

Berburu Seafood di Pasar Kedonganan Bali



Setiap kali berkunjung ke Bali, saya hampir tidak pernah memasukan seafood ke dalam bucket list kuliner yang ingin dinikmati selama di Bali. Selain karena agak jarang nemu seafood enak di Bali (enak itu relatif sih ya, yang enak kalo jatohnya mahal buat saya tetep jadi nggak enak hehe..), saya juga lebih tergoda untuk mencicipi kuliner khas Bali yang lain. Ujung-ujungnya makan Pak Malen lagi, makbeng lagi, atau nyobain kafe-kafe enak di sekitaran Bali. Tapi kan penasaran dong ya, Bali yang terkenal punya pantai cantik ini masa iya nggak punya seafood enak, baik enak di lidah dan enak di kantong, dan bisa jadi rekomendasi kalau main-main ke Bali lagi.

Waktu pertama kali jalan-jalan ke Bali beberapa tahun yang lalu, saya makan seafood di tepi pantai jimbaran. Iya makan di resto pinggir pantai, yang diiringin musik dan suasananya romantis banget itu, dan iya yang mahal itu lho..Tapi selain suasana kece yang ditawarkan, selebihnya buat saya sih biasa aja. Ternyata, nggak jauh dari jimbaran ada pasar ikan tempat kamu bisa berburu seafood segar dan langsung dimasak di sana. Namanya Pasar Ikan Kedonganan.

Jangan sampe salah kostum, namanya juga belanja ke pasar ikan pasti becek dong ya..singkirkan dulu dress-dress cantiknya



Monday, May 22, 2017

Ke Ora Beach Nggak Pake Mahal?? Baca Ini Dulu..





Ingin merasakan luxury staying on top of the clear seawater, dengan hamparan coral dan ikan-ikan cantik yang terlihat jelas? Bayangkan, kamu ada di sebuah pulau, menginap di villa cantik di atas air yang langsung menghadap laut dan begitu buka pintu kamar, kamu akan disambut air laut yang memantulkan kemilau cahaya matahari. Take a deep breath gaess, this is it..Ora Beach Resort.

Nggak perlu jauh-jauh ke Maldives atau Bora Bora, karena Ora Beach Resort menyajikan keindahan yang tidak kalah dari dua tempat yang telah mendunia itu. Ora Beach Resort sebenarnya sudah dibangun cukup lama, tapi memang baru beberapa tahun belakangan ini namanya semakin terkenal. Coba ketik ‘Ora Beach’ di search engine dan kamu akan menemukan banyak paket tur yang menawarkan jasa tripnya ke sana. Mulai dari yang harganya mahal sampai mahal banget. Memang sudah bukan rahasia untuk traveling ke Indonesia Timur kita perlu merogoh kocek yang lumayan. Mulai dari harga tiket pesawatnya yang jarang banget ada promo, belum lagi untuk mencapai lokasi tertentu kadang kita harus sewa boat yang juga tidak murah. Demi alasan kepraktisan, kita bisa aja join trip atau ambil paket tur yang ditawarkan banyak travel agen. Tapi kali ini saya mau coba share pengalaman saya ke Ora Beach Resort ala traveler BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita), berangkatnya ngeteng (baca : naik angkutan umum yang murah meriah itu loh).

Oke, klo kamu mau ke Ora Beach, lets start  from Ambon. Dari terminal kota Ambon, kamu harus naik angkot warna merah ke arah Pelabuhan Tulehu. Dari Pelabuhan Tulehu naik kapal cepat ke Pelabuhan Amahai (Masohi). Kapal menuju Amahai ini berangkat setiap hari jam 9 pagi dan jam 2 siang. Waktu tempuh kapal cepat ini sekitar 2 jam perjalanan. Untuk rincian biaya, saya jelaskan di catatan kecil di bagian akhir postingan ini ya.



Sunday, May 14, 2017

Rahasia Tetap Fit dan Bugar Selama Traveling





“Kamu kok enak banget sih kerjanya jalan-jalan mulu?”
“Pengen deh bisa sering jalan-jalan kaya kamu.”
“Abis ini jalan-jalan ke mana lagi, Mit?”

Percaya atau nggak, pertanyaan seperti itu sering banget mampir di tab mention, komen di IG atau mungkin ditanyakan oleh beberapa teman ketika bertemu dengan saya secara langsung. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang membuat saya berpikir, mereka hanya lihat bagian enaknya, but they didn’t know the process behind it.

Begitu pun dengan foto-foto cantik yang saya pajang di IG. Di balik foto pantai yang biru dan tenang, ada perjuangan berjam-jam naik kapal untuk menuju ke sana. Di balik foto keren di atas bukit, ada usaha untuk mencapai puncak. Simple-nya sih, yang orang lihat di IG kan the curated version, the best fraction of someone’s life. Lagipula siapa juga yang mau lihat foto jelek,kan?

Travelingnya sih enak, tapi susah-susahnya ya ada juga. Seperti misalnya harus lari-lari di bandara karena hampir ketinggalan pesawat, nginep di hotel yang nggak secantik gambarnya, dan sakit waktu lagi traveling.

Sakit pas lagi traveling? Beneran saya pernah mengalaminya. Waktu ke Penang beberapa bulan yang lalu, badan saya sempet drop. Tiap malam badan demam dan menggigil. Paginya badan sih enakan, tapi karena lanjut jalan-jalan, malamnya drop dan demam lagi. Rasanya nggak enak dan ganggu banget. Kesel sendiri deh, giliran teman saya bisa asyik jalan-jalan, masa saya malah harus terkapar tak berdaya di kamar hotel. Sejak saat itu, nggak mau deh lagi-lagi sakit pas traveling (pas nggak traveling pun nggak mau sakit sih). Jadi sebisa mungkin untuk selalu jaga kesehatan. Toh bener kan pepatah yang bilang lebih baik mencegah daripada mengobati.

Makanya begitu traveling selanjutnya, saya pikir harus lebih prepare. Selama ini karena tiap traveling selalu aman-aman aja jadinya nggak terlalu concern sama badan. Padahal kan jaga stamina tubuh tuh penting banget. Apalagi selama perjalanan, bisa kurang tidur, makan juga seenaknya karena merasa lagi liburan jadi cobain semua makanan khas setempat. Kondisi kaya gini nih yang bisa bikin badan langsung drop. Untungnya sekarang ada Herbadrink sari temulawak yang cocok banget untuk menunjang segudang aktivitas saya terutama saat traveling.

My Traveling Essentials

Jadi waktu kecil dulu, oma saya sering kasih jamu temulawak katanya supaya meningkatkan daya tahan tubuh, membantu pencernaan, dan menjaga fungsi hati. Ternyata memang terbukti loh, dari kecil saya ini termasuk orang yang jarang sakit. Tapi kan, cari temulawak sekarang juga nggak gampang. Belum lagi harus mau repot bikinnya. Begitu kenal sama Herbadrink sari temulawak, langsung jatuh cinta dan jadi minuman wajib yang harus ada setiap kali traveling. Senengnya lagi, karena kemasannya sachet, jadi praktis dan nggak berat dibawa ke mana-mana. Tinggal seduh pake air, jadi deh. Segar, enak, dan nggak ada endapan.

 Kemasan sachet praktis dan simple dibawa ke mana pun

Oh ya, minum herbadrink sari temulawak ini nggak hanya saya lakukan saat traveling aja. Buat minuman sehari-hari juga bisa banget. Kalau lagi dikejar deadline tulisan, kadang bisa begadang buat nulis. Pas banget minum herbadrink sari temulawak supaya nggak gampang sakit karena kurang tidur. Belakangan saya juga baru tahu kalau temulawak pun berkhasiat menjaga kadar kolesterol dalam darah. Pas banget buat saya dan kamu yang suka kulineran. Nggak ada salahnya kan investasi untuk kesehatan dari sejak kita muda?



Nah, buat kamu yang penasaran dan ingin juga menikmati manfaat dari herbadrink sari temulawak, sekarang sudah bisa dibeli di supermarket dan minimarket. Belanja online pun bisa di sini


So, tunggu apa lagi? Traveling sekarang dan jangan lupa herbadrink sari temulawak.
Lets go to the beach !!

 Siap untuk jalan-jalan lagi ^^