Friday, October 9, 2009

she's my best friend




Hari ini saya sedikit bertengkar dengan sahabat saya. Masalahnya sederhana sih, karena saya terlambat datang saat janjian dengannya. Saya tahu sebenarnya ini salah saya, tapi kemudian muncul berbagai pembelaan. ‘saya kan sudah memberi kabar bahwa saya akan datang terlambat karena saya harus mengerjakan pekerjaan yang penting’ atau ‘kalau memang dia tidak mau menunggu saya kenapa dia pergi tanpa memberi kabar, sehingga pada akhirnya saya juga menunggunya cukup lama’. Di samping adanya pembelaan-pembelaan itu, saya juga kesal pada sikap sahabat saya yang membuat masalah semakin runyam. Pada akhirnya saya membenarkan diri saya, bahwa ini murni bukan salah saya. Jadi wajar dong kalau saya kesal. Akhirnya saya mengirimnya sebuah sms singkat permohonan maaf, tanpa mengharapkan balasan darinya.
Anehnya, sepanjang sisa hari ini, saya malah bertambah kesal. Perasaan hati saya tidak enak dan saya sama sekali tidak tahu apa penyebab jelasnya. Ketika saya masuk kamar dan coba merenung, tiba-tiba terlintas wajah sahabat saya dan apa yang terjadi tadi. Pikiran jahat saya berkata, “Gue ga salah lagi, salah dia aja kenapa waktu gue sms dia ga bales” Atau “ Gue ga salah lagi, dia aja yang keterlaluan kalo ngambek, ga mau ngomong,jadi bikin orang tambah bingung.” Tapi semakin saya berkata bahwa saya benar dan dia yang salah, justru ini semakin melukai hati saya.
Saya bersahabat dengannya bukan sehari dua hari, tapi hampir 6 tahun. Waktu yang cukup lama untuk mengenal karakternya, mengenal seperti apa kalau dia marah, mengerti apa saja yang dia suka atau apa saja yang dia benci, waktu yang cukup juga untuk kami tertawa bersama dan saling berbagi. Tapi 6 tahun juga waktu yang cukup, untuk kami isi dengan pertengkaran-pertengkaran. Lucunya pertengkaran itu membuat kami semakin dekat dan saling kenal satu sama lain.
Ketika kami bertengkar, kami mungkin saling menyakiti, tapi tanpa sadar justru kami sedang menyakiti diri kami sendiri.
Sekarang ini saya memang malas untuk sms dia, mungkin dia juga. Tapi saya tidak pernah benar-benar malas untuk kembali berbicara dengannya. Baru beberapa menit kami bertengkar, saya sudah kangen mendengar suaranya. Jadi biarlah seperti ini. Saya yakin besok kami akan bersikap seperti biasa lagi. Tanpa harus minta maaf dengan ritual salam-salaman tentunya.
Saya pikir memang seperti itulah sahabat. Bisa saling mengenal sama seperti saya mengenal diri saya sendiri dengan baik. Seperti apa pun saya kesal pada sahabat saya, seperti apa pun saya marah padanya, saya tetap mengasihinya karena dia adalah sahabat saya.
Tha...020208
p.s. based on a true story, gara2 kesel sama flie