Monday, November 10, 2014

Grow Old With You




Bagaimana rasanya hidup dan menjadi tua bersama?

Ada seseorang di sisi, saat saya membuka mata, dan saya berikan kecupan selamat pagi.
Sarapan bersama setiap pagi, ngobrol random mulai dari berita hari ini, kebutuhan rumah yang harus dibeli, gosip-gosip artis, sampai rencana kita sepanjang hari.
Nonton TV bersama pasti akan menjadi hal favorit kita, meskipun kita akan terus rebutan remote tv karena kamu lebih suka nonton berita dan saya lebih suka nonton infotainment.
Kita akan melakukan banyak hal bersama. Nonton semua jenis film, wisata kuliner dan mencoba tempat-tempat makan baru, dan menonton konser music favorit.
Menikmati kopi di sore hari, saling berbagi mimpi dan cerita sambil merebahkan kepala di pangkuanmu adalah hal yang akan saya nikmati.
Mungkin ada kalanya kita bertengkar, berbeda pendapat, dan saling berargumen, tapi pasti saya akan merindukan saat-saat seperti itu. Karena dalam setiap pertengkaran kita akan semakin mengenal, belajar untuk saling memahami dan menerima perbedaan.
Ketika tubuh semakin renta, saat kaki tidak sanggup lagi melangkah terlalu jauh dan tangan tidak mampu lagi menopang beban berat, kita akan menghabiskan hari-hari di rumah, menikmati senja dan menanti saat anak-anak sesekali pulang ke rumah.
Dan apabila saatnya tiba, ketika salah satu dari kita ‘pulang’ lebih dulu, masing-masing dari kita haruslah tetap kuat karena hari-hari yang telah kita lalui bersama.

p.s. catatan ini untuk kamu, seseorang di luar sana yang sedang Tuhan siapkan untuk menghabiskan sisa hidup dan menjadi tua bersama ^^

Tha..101114..4 p.m.


Tuesday, August 5, 2014

Cerpen ''With(out) You" -Kompetisi Menulis #JCDD2 Dwitasari






With(out) You
Sebuah cerpen karya : Mita Vacariani

Verde Beer House, 9 p.m.
        Bianca baru saja berhasil memarkirkan mobilnya ketika handphone-nya berdering. Hampir lima menit dia berputar-putar mencari tempat parkir karena halaman parkir Verde sudah penuh malam itu. Dengan susah payah Bianca pun terpaksa parkir secara paralel. Seperti biasa beer house langganannya ini memang selalu penuh menjelang weekend seperti ini.
        Suara seksi Adam Levine yang sudah sangat familiar di telinganya masih juga berbunyi. Bianca sengaja memilih lagu itu khusus untuk orang yang menelepon ini, Caleb.
“Yes, Cal?” Jawab Bianca begitu ditekannya tombol hijau. Dengan multi tasking, sambil menelepon, Bianca mematikan AC dan mesin mobil, bersiap turun. Messy hair nya disisir dengan jari, sementara tangan satunya masih memegang handphone, “Iya ini gue udah di parkiran, bentar lagi masuk. Ya udah ya, gue langsung masuk kok.”
        Bianca memutus pembicaraan sepihak, malas berdebat panjang di telepon hanya karena dia datang terlambat. Bukannya langsung keluar dari mobil, Bianca malah duduk terdiam sambil menyandarkan dagunya ke setir mobil. Melihat orang-orang yang keluar masuk Verde, bisa dibayangkan penuhnya beer house itu. Untuk ukuran orang yang sudah beberapa hari lembur dan kurang tidur, Bianca sebetulnya lebih memilih pulang, mandi, dan selimutan sampai ketiduran. Kalau bukan karena Caleb yang memaksanya datang, Bianca pasti sudah menikmati hangatnya tempat tidur sekarang. Tapi kapan sih, Bianca bisa menolak Caleb. Hujan badai pun mungkin dia akan datang kalau Caleb yang minta.
        Entah sejak kapan Caleb punya privillage khusus seperti itu, apalagi Bianca baru mengenalnya sekitar tiga tahunan. Berawal dari sama-sama staff baru di kantor tempat Bianca bekerja, hubungan dia dan Caleb makin berkembang dari partner kerja, partner makan siang, sampai partner diskusi. Mulai dari hal-hal nggak penting seperti gosip-gosip kantor terbaru sampai sharing soal impian dan hidup, Caleb menemukan kenyamanan pada Bianca.
        Awalnya Bianca menyangka pertemanannya dengan Caleb hanya akan bertahan selama mereka bekerja di kantor yang sama. Tapi rupanya bahkan setelah Caleb resign dan mendapat pekerjaan baru, mereka masih sering jalan bareng. Pelan-pelan dia bahkan bisa gabung dengan sahabat-sahabat Caleb. Jangan tanya sedekat apa mereka sekarang, karena Bianca selalu menjadi orang yang pertama tahu tentang apa pun yang terjadi dengan Caleb.
        Mungkin karena Bianca selalu bisa jadi teman ngobrol yang menyenangkan, Caleb selalu cerita apa saja dengannya. Mulai dari mimpinya menjadi arsitek handal, keluarganya, sampai wanita-wanita yang ada di sekelilingnya. Untuk bagian yang terakhir, Bianca sampai lupa nama-nama wanita yang selalu Caleb ceritakan, saking banyaknya. Let me describe about Caleb, dia memang tipikal pria yang akan menjadi idaman para wanita. Tubuh tinggi tegap dengan otot-otot terbentuk sempurna hasil dari nge-gyw yang rutin, mata yang indah, dan pembawaan yang supel dan hangat. Dan yang terpenting, Caleb tahu seperti apa memperlakukan wanita. Bianca selalu menyebut mereka korban perasaannya Caleb dan Caleb menyebutnya pemanis hidup. Bianca selalu bertanya-tanya, tidakkah ada seorang saja wanita yang benar-benar Caleb cintai, dan Bianca akhirnya menemukan wanita itu. Seseorang yang bisa menjungkirbalikkan dunia Caleb. Wanita itu bernama Inka.
        Ketukan pelan di jendela mobilnya, menyadarkan Bianca dari lamunannya. Bianca segera bangkit dan membuka pintu mobil.
        “Lama banget sih,” protes Caleb begitu Bianca sudah keluar dari mobilnya.
        “Sabar dong, emangnya gampang cari parkir pas lagi penuh begini,” Bianca membela diri, “Pake disusulin segala, bentar lagi juga aku masuk.”
        “Justru itu sengaja aku susulin, tadinya mau bantuin kamu parkir,” jawab Caleb ringan, kemudian merangkul pundak Bianca, “Yuk masuk, yang lain udah pada nungguin.”
         Sentuhan ringan Caleb membuat Bianca sedikit mengerjap. Entah sejak kapan dia harus ekstra mengendalikan detak jantungnya setiap kali bersentuhan dengan Caleb, sementara dilihatnya Caleb kelihatan santai-santai saja. Bianca benci perasaan ini, perasaan ‘aneh’ setiap kali bersama Caleb. Dia benci karena bingung harus berbuat apa.
          Caleb menuntun Bianca ke tempat biasa mereka duduk. Sofa melingkar di pojok tengah Verde selalu menjadi spot favorit mereka. Sesampainya di sana rupanya sudah cukup ramai. Ada Resa dan Erik sahabat-sahabat Caleb dari SMA, yang kemudian jadi sering nongkrong dengan Bianca juga. Ada juga Theo teman kantornya Caleb dan pacarnya Indah, dan Regina, yang baru Bianca kenal barusan, sepertinya sih pedekateannya Resa. Bianca nggak menyangka akan seramai itu. Dipikirnya hanya ada Resa dan Erik seperti biasa. Tahu udah rame gini kan mending nggak usah dateng, pikir Bianca dalam hati.
         “Akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga,” kata Erik begitu Bianca duduk. Bianca awalnya memilih duduk di samping Erik, tapi Erik malah bergeser dan memberikan tempatnya untuk Caleb. Seperti ada aturan nggak tertulis kalau Bianca harus selalu di samping Caleb, dan Bianca kadang gerah akan hal itu.
            “Pesen minum dulu Bi,” Resa memberikan buku menu pada Bianca. Bianca menggangguk dan menerima buku menu itu. Bianca baru saja akan memesan cocktail atau sedikit minuman beralkohol lainnya yang mungkin bisa menghilangkan kepenatannya setelah seharian sibuk di kantor, ketika kemudian didengarnya Caleb sudah memesan jus leci pada waitress.
            “Kamu pesen jus leci buat siapa?” tanya Bianca.
         “Aku pesenin buat kamu, biar kamu nggak usah pesen yang aneh-aneh,” jawab Caleb santai.      
            Bianca mendengus kesal. Diambilnya botol bir dingin milik Erik dan ditenggaknya dengan cepat isinya, sebagai bentuk protesnya pada Caleb.
            “Whoa..whoa..apa-apaan nih?” Caleb dengan paksa menarik botol bir tersebut, sebelum isinya benar-benar dihabiskan, “Cukup Bi, kamu nggak boleh minum sekarang. Aku jadi khawatir deh nanti kalau aku nggak ada siapa yang bakal jagain kamu.”
            “Mulai deh posesifnya,” sambung Resa yang disambut senyum puas di wajah Caleb. Apa Caleb nggak pernah sadar perlakuannya barusan semakin menambah kepedihan di hati Bianca.
***
            Entah sejak kapan Bianca menyadari perasaannya pada Caleb sudah terlalu jauh. Mungkin sejak Bianca merasa terlalu nyaman berada di samping Caleb atau mungkin karena Bianca selalu menjadi tempat Caleb bersandar.
            Bianca ingat, malam itu hari Jumat, sama seperti hari ini, Bianca baru saja beres lembur dari kantor. Dengan terburu-buru Bianca datang ke Verde karena mendapat panggilan darurat dari Caleb. Suara Caleb di telepon saat itu benar-benar membuatnya panik. Benar saja, sesampainya di sana, dilihatnya Caleb duduk sendiri di tempat biasa, sudah menghabiskan dua botol bir, dan masih ada lagi botol minuman beralkohol lainnya.
            “Ini apa-apaan?” Bianca menjauhkan minuman dari jangkauan Caleb. Dilihatnya Caleb sudah terlalu teler untuk minum lagi.
            “Biarin aja Bi,” Caleb berusaha mengambil kembali botolnya, tapi kemudian menyerah karena sudah terlalu lemas untuk menggapai. Kemudian mengalirlah semua isi hatinya, “Aku sayang banget sama dia, Bi. Semua udah aku kasih buat dia, aku udah dibawa kenal sama keluarganya, temen-temennya. Kita bahkan udah ngomongin soal masa depan. Sekarang tiba-tiba dia jadian sama cowo lain. Damn.”
            Bianca sudah beberapa kali mendengar Caleb bercerita tentang Inka, dan dari cerita yang didengarnya, Caleb sepertinya benar-benar fall in love dengan wanita ini. Inka begini lah, Inka begitu lah, rasanya Bianca seperti sudah lama mengenal Inka karena seringnya dan begitu detailnya cerita Caleb. Dan kalau sekarang dia dengar apa yang Inka lakukan, Bianca cukup amaze dengan apa yang bisa wanita itu lakukan pada sahabatnya ini.
            Caleb sudah terlalu mabuk malam itu untuk bisa pulang sendiri. Bianca bahkan harus minta bantuan satpam untuk membopong Caleb masuk mobil. Beruntung dia cukup mengenal pemilik Verde, jadi mobil Caleb bisa dititipkan di situ. Namun Bianca tidak cukup kuat untuk menggotong Caleb sesampainya mereka di apartemen Caleb. Terpaksa dia hanya parkir di parkiran dan menunggu hingga Caleb bangun.
            Jam sudah menunjukan pukul empat pagi, ketika Caleb terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Dilihatnya Bianca duduk di samping dengan mata terpejam, tapi mulutnya bersenandung lagu yang diputar di radio mobil.
            “Bi,” Caleb menyentuh pelan bahu Bianca.
            “Hello sleepyhead,” Bianca tersenyum kemudian mengubah posisi duduknya, menghadap ke arah Caleb.
            “Berapa lama kita di sini?” Caleb cukup terkejut ketika melihat jam tangannya, sudah hampir pagi.
            “Cukup lama buat bikin kaki aku pegel banget,” canda Bianca, “Are you okay now?”
            Caleb tersenyum dan dengan natural dielusnya puncak kepala Bianca, “Makasih ya Bi, karena selalu ada buat aku.”
            Bianca blushing. Cepat-cepat dialihkan wajahnya, tidak mau Caleb menyadari hal itu. Mungkin sejak hari itu, Bianca tidak pernah lagi memandang Caleb dengan cara yang sama.
***
            “Oke guys, gue sengaja ngumpulin kalian semua hari ini, karena mau mengumumkan sesuatu,” kata Caleb tiba-tiba. Semua yang duduk di situ mulai penasaran.
            “Hari ini adalah hari terakhir gue di Jakarta,” lanjut Caleb lagi, “Karena mulai besok gue harus terbang ke Amrik ngerjain proyek yang kemaren sukses gue menangin tendernya.”
            Semua yang ada di situ spontan bertepuk tangan, ikut gembira mendengar kabar Caleb. Resa, Erik, dan Theo langsung bangkit dan memeluk sahabatnya, brotherly. Sementara Bianca sukses dibuat shock oleh pernyataan Caleb barusan. Ditinggal Caleb ke Amerika untuk jangka waktu yang lama rasanya bukan kabar yang cukup menyenangkan untuk Bianca dengar saat ini. Melihat respon yang lain, tiba-tiba Bianca merasa bodoh. Apa hanya dirinya yang baru tahu soal kabar ini? Dia pikir Caleb sudah menganggapnya sahabat yang bisa cukup dipercaya untuk tahu lebih dulu mengenai kabar seperti ini, tapi nyatanya Bianca mungkin yang terakhir tahu. Sebersit rasa nyeri muncul di hatinya. Karena tidak dipercaya, karena dia akan ditinggalkan Caleb, dan karena Caleb akhirnya pergi tanpa pernah tahu apa yang dirasakan Bianca selama ini.
            “Bi,” Caleb menyentuh pundak Bianca pelan setelah euphoria pengumumannya tadi selesai dan karena Bianca nampak tidak bergeming.
            “Jadi ini semacam farewell party ya?” tanya Bianca sedikit ketus.
            Caleb menangkap kekesalan di nada suara Bianca, “Maafin aku Bi, aku sama sekali nggak bermaksud menyembunyikan ini dari kamu,” Caleb menghela napas sejenak, mencoba memberi penjelasan, “Beberapa minggu yang lalu mungkin aku sempet cerita soal kerja sama perusahaan dengan klien di Amerika. Kita ngerjain pembangunan apartemen murah di sana. Aku sama temen-temen coba bikin konsep yang beda dan ternyata klien kita suka. Bos aku langsung nunjuk aku jadi team leader proyek ini, karena hampir sebagian besar konsepnya memang aku yang buat. Jadi ya otomatis aku harus langsung move ke sana.”
Bianca masih diam. Dia semakin menundukkan kepalanya, berharap dengan bersikap seperti itu tidak ada seorang pun yang dapat melihat kesedihannya. Caleb bahkan masih ada di situ, tapi kenapa rasa kehilangan itu sudah begitu menoreh hatinya.
“Nggak lama kok Bi, target kami setahun proyek itu selesai, dan aku balik Jakarta lagi. Oh, dan aku udah nitipin kamu sama Resa dan Erik, jadi kamu nggak akan kesepian selama aku nggak ada di sini,” Caleb masih mencoba menenangkan Bianca. Biar bagaimana pun antusiasnya dia dengan pekerjaan barunya di Amerika, Caleb tetap merasa berat meninggalkan Bianca.
            Melihat Bianca hanya diam, Caleb dengan refleks menggenggam tangan Bianca. Bianca kaget dan spontan berdiri sehingga menjatuhkan tas yang sejak tadi ada di pangkuannya. Hampir sebagian isi tasnya berhamburan keluar. Ketika Bianca sibuk memunguti barangnya yang jatuh, sesuatu yang kecil dan sedikit berkilau menarik perhatian Caleb.
            Sebuah anting perak yang sangat familiar bagi Caleb. Anting itu sudah dikaitkan dengan rantai kecil, mungkin bisa dipakai sebagai gantungan kunci. Caleb yakin betul anting itu adalah anting miliknya dulu. Anting yang hanya sebelah kiri itu selalu dipakainya dulu ke mana pun, tapi satu kali saja Inka mengatakan tidak suka pada pria yang memakai anting, tanpa pikir panjang dibuangnya anting itu. Dia kaget anting itu kini ada pada Bianca. Dibuat menjadi seperti liontin pada sebuah rantai sehingga tidak akan mudah hilang.
            Bianca terkejut ketika dilihatnya Caleb menemukan anting yang selama ini dia sembunyikan. Dengan cepat direbutnya anting tersebut dari tangan Caleb, tapi tangan Caleb tidak kalah cepat untuk menahannya.
            “Apa ini Bi?” tanya Caleb masih menggenggam anting itu.
           Bianca hanya diam, bingung mau menjawab apa. Rasanya masih jelas dalam ingatannya waktu Caleb membuang anting itu. Caleb membuang benda kesayangannya demi wanita yang dia sayang, dan wanita itu bukan Bianca. Bianca sudah akrab dengan kepedihan karena perasaannya pada Caleb hanya bisa disimpannya sendiri. Dia tidak mau merusak persahabatannya dengan Caleb selama ini. Selalu berada di samping Caleb saja baginya sudah cukup. Memiliki anting itu hanyalah sebagai simbol. Memiliki sebagian dari Caleb.
            Melihat Bianca tidak juga berkata apa pun, Caleb melanjutkan lagi, “Anting ini kecil banget Bi, kalau aku nggak pernah tahu gimana?”
            Bianca menemukan sorot mata kesedihan di mata Caleb. Ya Tuhan, bagaimana caranya dia tetap dapat bertahan selepas Caleb pergi nanti. Dia pasti akan sangat merindukan tatapan hangat Caleb, pelukannya yang nyaman, dan momen-momen kebersamaan mereka. “Gapapa kalau kamu nggak pernah tahu,” Bianca tersenyum penuh arti, “Memiliki anting ini saja sudah cukup membuatku bahagia.”
            Caleb menarik Bianca ke dalam pelukannya. Tidak peduli saat itu teman-temannya yang lain mulai memperhatikannya, yang dia inginkan saat itu hanya Bianca. Dalam pelukan Caleb, Bianca membiarkan air matanya perlahan jatuh.
***
Sabtu pagi, di apartemen Caleb..
            Bianca masuk ke apartemen milik Caleb. Sebelum pergi, Caleb sempat menyerahkan kunci apartemennya, katanya kalau Bianca lembur bisa sekali-kali istirahat di apartemennya. Jarak apartemen Caleb dan kantor Bianca memang lebih dekat jika dibandingkan dengan kantor dan rumahnya. Selama ini pun Bianca kadang suka numpang istirahat di apartemen Caleb.
            Apartemen yang didesain dengan konsep modern minimalis itu kini terlihat lebih rapi dari biasanya. Sepertinya Caleb menyempatkan diri dulu untuk beres-beres karena akan meninggalkan lama tempat ini.
            Bianca berjalan menuju kamar Caleb. Dengan perlahan dibuka pintu kamarnya. Selama ini Bianca tidak pernah sekali pun memasuki kamar ini. Sedekat apa pun mereka selama ini, Bianca tetap menjunjung tinggi yang namanya privasi dan kesopanan.
            Kamar Caleb terbilang cukup rapi untuk ukuran kamar pria. Nuansa warna hitam putih yang mendominasi di kamar itu menambah kesan maskulin bagi si pemilik kamar. Tidak terlalu banyak barang atau hiasan di sana. Mungkin karena sebagian besar sudah Caleb bawa. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian Bianca. Dua buah bingkai foto yang diletakkan di meja kecil, di samping tempat tidur.
            Bianca mengambil kedua bingkai foto itu. Bingkai pertama berisi fotonya dengan Caleb. Sepertinya foto itu diambil setahunan yang lalu waktu mereka sedang berlibur ke Bali. Di foto itu Caleb merangkul Bianca dengan paksa, dan tersenyum lebar. Sementara Bianca yang sedang tidak siap di foto, menunjukkan ekspresi cemberut dan terkesan lucu di foto itu. Melihat foto itu Bianca tersenyum. Hatinya merasa hangat. Belum sehari Caleb pergi, tapi dia sudah sangat merindukan pria itu.
            Bingkai foto satunya lagi membuat Bianca mengernyit bingung. Itu adalah foto dirinya yang diambil secara candid. Dia bahkan tidak tahu kapan foto itu diambil. Dirinya sedang duduk di sofa sambil membaca novel. Dibaliknya bingkai foto itu dan ternyata ada tulisan tangan di sana. Tulisan Caleb yang berbunyi The place I’ll come home to..
            Bianca terduduk dengan lemas di lantai, bersender ke pinggiran tempat tidur. Dipeluknya kedua bingkai foto itu dengan erat. Bianca tidak sanggup menahan lagi air matanya. Dalam diam dia menangis, mengingat Caleb, mengingat perasaannya yang tidak pernah tersampaikan. Di antara sekian banyak benda yang dapat Bianca temui di kamar Caleb, kenapa hanya ada dua foto tersebut di kamar Caleb. Seakan-akan foto itu adalah hal yang paling berharga baginya. Dan tulisan yang tadi Bianca lihat, tentunya memiliki makna yang tidak biasa. Mungkinkah selama ini Caleb juga memiliki perasaan yang sama? Perasaan yang juga disimpannya dengan rapi.
            Dalam tangisnya, Bianca tiba-tiba merasakan handphone-nya bergetar .
Caleb :
Tega banget sih kamu, nggak nganterin aku ke bandara.

Bianca :
Daripada sedih ngeliatin kamu pergi, nanti ada nangis-nangis di bandara kaya sinetron lagi.

Caleb :
Hahaha..Take care ya Bi, nanti kalau ada cowok yang deketin kamu, pastiin orangnya jangan kaya aku.

Bianca :
You too, take care Cal. Kalau mau deketin cewek, pastiin orangnya kaya aku.

Caleb :
Aku udah nggak mau deketin cewek lain lagi, kalau deketin kamu aja gimana? Hehehe.. I’ll miss you, Bi..

Bianca :
I’ll miss you too

            Bianca tersenyum ketika mengetikan pesannya yang terakhir. Tadinya dia kira percakapannya sudah selesai, ketika dirasakannya handphone-nya bergetar lagi. Rupanya Caleb mengirimkan pesan lagi.

Caleb :
Bi, satu tahun itu nggak lama, kamu mau kan nungguin aku pulang?

Bianca :
I will.

          Bianca menghapus sisa air matanya dan tersenyum lega. Dalam hati dia berjanji akan menunggu Caleb pulang. Caleb pasti kembali. Bukankah di foto tadi dia bilang dirinya adalah tempat untuk Caleb pulang? Aku pasti akan tunggu kamu pulang, Cal. 




Wednesday, July 16, 2014

Love is Like a circle




Love is a funny thing
Whenever I give it, it comes back to me
And it’s wonderful to be
Giving with my whole heart
As my heart receives Your love
Jason Mraz – Love Someone




Lucu jika bicara tentang cinta.  Mungkin kamu pernah mencintai seseorang, tapi orang yang kamu cintai itu tidak balas mencintaimu balik. Tapi kemudian ada orang lain yang menawarkan cintanya untukmu, tapi kamu sama sekali nggak bisa menerimanya. Andaikan saja kita bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta pastinya akan lebih mudah. Lebih sederhana. Bukankah selama ini teori ‘suka sama suka’ itu artinya:  aku suka sama kamu, kamu juga suka sama aku.

Rasanya cinta tidak sesederhana itu. Cinta nggak kaya hitungan matematika yang akan habis ketika kamu bagi dengan seseorang. Mungkin ada saatnya kamu dengan sepenuh hati mencintai seseorang, dan balasan cinta itu kamu dapat dari orang lain. Kemudian kamu akan dengan tulus belajar mencintai orang itu.

Saya nggak tahu apa-apa soal cinta dan saya nggak bermaksud mengajari siapa-siapa tentang cinta. Yang saya tahu seseorang pernah bilang bahwa mencintai adalah keputusan. Keputusan untuk belajar tulus, keputusan untuk melepaskan, dan keputusan untuk menjadi yang terbaik.

Ketika menulis ini, saya baru saja mendengar cerita salah seorang teman yang bertahun-tahun mencintai seorang wanita, tapi perlakuan wanita itu membuatnya menjadi skeptis tentang cinta. Katanya dia tidak bisa mencintai wanita lain sebesar cintanya yang dulu. Rasa sayangnya sudah habis.

Saya hanya bisa mengambil kesimpulan seperti ini:
Love is like a circle..when you love someone, it will back to you..even it doesn’t come from the same person..you being loved by someone else.

Cinta itu tidak akan terbuang dengan sia-sia, karena pasti akan kembali padamu, mungkin dari orang yang berbeda dan mungkin dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Terima kasih kamu bisa berbagi cerita ini, kamu membuat saya percaya cinta yang tulus itu masih ada. Saya mau belajar untuk itu, mungkin dengan kamu J


Tha..160714..11 p.m


Tuesday, June 10, 2014

Tentang Saya dan Sebuah Doa yang Tulus






Your prayer for someone may or may not changes them, but it always change you

Konon katanya ketika kita memiliki sebuah keinginan, mulailah dengan doa. Mintalah maka akan diberikan kepadamu.

Saat ini saya juga sedang menaikan sebuah doa. Doa yang sederhana, untuk seseorang. Saya berdoa untuk pekerjaannya, kesehatannya, pergumulan-pergumulan yang selama ini dia ceritakan, dan semua hal yang saya ingat tentang dia dan bisa saya doakan. Tapi kemudian dia mengecewakan saya. Saya sampai ada di titik, malu pada diri saya sendiri dan pada Tuhan, kenapa saya sampai terpikir berdoa untuknya. Tidakkah doa saya sia-sia??

Sampai akhirnya saya sadar akan suatu hal. Bahwa doa saya selama ini hanyalah tentang keinginan saya, permintaan saya, dan semuanya merujuk kepada keegoisan saya sendiri. Mungkin kamu juga pernah seperti itu. Mendoakan supaya seseorang berubah, tujuannya supaya dia lebih baik sama kita. Atau mungkin berdoa supaya seseorang menjadi seperti yang kita inginkan, supaya kita bahagia dan mendapatkan sosok yang ideal sesuai harapan kita.

Tidakkah itu adalah doa yang egois? Bukankah doa bukan lagi berpusat tentang kita, tapi semua tentang Tuhan. Bukan lagi tentang apa yang kita inginkan, tapi apa yang Tuhan inginkan.

Kekecewaan ini ternyata mengingatkan saya untuk menaikkan doa dengan tulus. Bahwa ketika saya berdoa untuk seseorang, tujuannya adalah yang terbaik bagi orang itu, bukan untuk saya. Sekalipun ternyata dia mengecewakan, tapi yang terpenting kita telah melakukan bagian kita, berdoa untuknya.

Hari ini saya memutuskan tetap melakukan bagian saya, berdoa. Mungkin dia belum berubah, mungkin dia tidak akan pernah tahu tentang doa-doa yang saya naikkan, tapi pola pikir saya yang sudah berubah. Saya yang diajar berdoa dengan tulus dan tidak egois. Saya diajar untuk berserah dan membiarkan Tuhan melakukan bagianNya. Dan akhirnya saya percaya tidak ada yang sia-sia dari sebuah doa.


Tha..100614..11 p.m