Tuesday, April 25, 2017

Makan dan Ngopi Cantik di Toraja #TanaTorajaPart2



Sesuai janji, saya akan melanjutkan cerita one day trip saya di Tana Toraja. Setelah setengah hari menjelajahi wisata kematian ala Toraja, sekarang saatnya kulineran. Dua point penting soal kuliner di Toraja yang mesti kamu tahu : Pertama, untuk kamu yang muslim, mesti agak selektif cari-cari tempat makan soalnya di sini rata-rata makanannya non halal. Kedua, kuliner khas Toraja nilainya enak dan enak banget. Overall sih cita rasa makanannya cocok di lidah saya. Langsung aja, ini dia kuliner khas Toraja yang sempat saya cicipi, plus di mana kamu bisa menemukannya :
·           Warung Pong Buri
Tempat makan yang sudah berdiri selama puluhan tahun ini sudah populer sebagai warung makan yang menyajikan makanan khas Toraja. Lokasinya di Jalan Pembangunan, Penanian, Rantepao. Posisinya yang berada di pinggir jalan raya membuat warung Pong Buri nggak jauh beda seperti warteg-warteg pada umumnya. Tapi jangan salah, warung yang sudah buka sejak pagi ini nggak pernah keliatan sepi. Di sini kamu bisa menemukan berbagai makanan khas Toraja seperti Pantollo Duku (Babi), Pa’Piong (ayam/babi), Balok (arak toraja), ikan sambal balado, dan jus tamarillo. Untuk makan siang saya dan @tha_nte memesan pantolo duku (daging babi yang dimasak dengan bumbu khas seperti rawon), ikan sambal balado lengkap dengan sambel khasnya yaitu cabe rawit yang dicampur dengan irisan tomat dan jeruk nipis. Untuk makan lengkap seperti itu, saya hanya membayar Rp. 45.000,- Murah, enak, dan kenyang (ini penting hehe..)

Dari depan aja udah ngantri, apalagi pas jam makan siang

ikan sambal balado dan pantolo duku

·           Bakso Babi
Sejak sampai di Toraja, saya menemukan ada banyak warung bakso babi di sepanjang jalan. Olahan daging babi lainnya yang juga jadi favorit di sini adalah bakso babi, dengan kuah hangat, perasan jeruk nipis dan sambal. Saya menikmati semangkok bakso babi di warung bakso babi manalagi, di Jalan Penanian, Rantepao. Satu mangkok bakso porsi besar (isi 8) dihargai Rp. 18.000,-


·           Jus Tamarillo
Masih di warung bakso babi manalagi, saya juga mencicipi jus Tamarillo atau jus terong belanda. Kalau mampir ke Toraja jangan lupa untuk mencoba jus ini, karena jus tamarillo memang agak sulit ditemukan di daerah lain. Warnanya mirip jus jambu, rasanya segar dan sedikit asam seperti jus markisa. Cukup dengan Rp. 10.000,- saya sudah bisa menikmati jus tamarillo yang segar ini.


·           Sate Ahok
Bukan karena nge-fans dengan Pak Ahok makanya diberi nama sate ahok, tapi Ahok di sini merupakan singkatan dari Anak Hoki, mungkin supaya jualan satenya laku dan bawa hoki. Sate Ahok ada di Jl. Ahmad Yani Rantepao (samping modern foto). Menunya hanya ada satu yaitu sate babi. Sate babinya mirip sate taichan yang lagi nge-hits di Bandung. Sate dengan bumbu agak asin, diberikan juga bumbu kacang yang agak encer dan sambal. Bumbu kacang dan sambalnya disajikan terpisah. Harga sate ahok Rp. 2.500,- /tusuk.


·           Kaana Toraya Coffee
Bagi para penikmat kopi, sudah bukan rahasia lagi kalau Toraja terkenal dengan kopinya yang nikmat. Makanya di Toraja ada banyak tempat ngopi yang enak, salah satunya Kaana Toraya Coffee di jalan Pongtiku No 8, Rantepao. Lokasinya tepat di belakang hotel Pison. Waktu ke sana saya menggunakan GPS, dan mengarah ke bagian depan hotel. Ternyata masuk lewat hotelnya pun bisa, nanti akan diantar oleh staff hotel ke kafenya. Di sini kamu akan menemukan kincir air dual fungsi yang unik. Tidak hanya sekedar dipajang dan diputar untuk menikmati gemericik air, tapi kincir air ini juga berfungsi sebagai sumber energi untuk menghidupkan roasting machine kreasi pemilik Kafe, Bapa Eli Pongrekun. Bapa Eli juga dengan senang hati akan menemani kamu kalau mau ngobrol-ngobrol seputar kopi. Minum kopi ditemani gemericik air yang menenangkan plus ngobrol-ngobrol seru dengan pemilik kedai jadi alasan yang tepat untuk kamu datang ke tempat ini. Oh ya, Kaana Toraya Coffee juga menjual kopi-kopi yang sudah dikemas rapi untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh lho..


·           Warung Kopi Toraja
Mengambil lokasi di Jalan Poros Makale – Rantepao No 77 (samping hotel Misiliana), tepat di perlintasan jalan utama dari Makale ke Rantepao membuat kita harus jeli untuk menemukan kedai ini. Dari luar terlihat seperti tumah biasa dan hanya ada spanduk kecil di depannya. Ternyata kedai sederhana ini memang menempati beranda depan rumah pemiliknya. Di kedai ini hanya ada sekitar empat meja kecil untuk tamu dan etalase untuk memajang kopi-kopi yang sudah dikemas untuk dibawa pulang. Ruangannya berbatasan langsung dengan dapur yang digunakan untuk menyangrai kopi. Begitu masuk kedai ini, kamu akan disambut wangi kopi yang menenangkan. Dengan suasananya yang tenang,  rasanya betah berlama-lama untuk menikmati secangkir kopi di sini.


Masih ada kuliner Toraja yang belum saya tuliskan di atas? Silakan tambahkan di kolom komen yaa.. Buat kamu yang lagi cari referensi untuk cari tempat makan dan ngopi enak di Toraja, semoga tulisan saya ini bisa sedikit memberi informasi. Enjoy ^^


Tuesday, April 18, 2017

Wisata Kematian di Tana Toraja yang Mempesona #TanaTorajaPart1





Kenapa disebut wisata kematian? Karena tempat-tempat yang iconic di Tana Toraja berkaitan dengan kuburan, tulang belulang jenazah, dan tempat orang meninggal. Tapi nggak perlu takut atau bergidik ngeri, karena tempat-tempat wisata di Tana Toraja justru unik dan membuat kamu terpesona.

Sedikit informasi tentang Toraja, Kabupaten Tana Toraja terletak di propinsi Sulawesi Selatan dengan ibu kota Makale. Kemudian wilayah kabupaten ini mengalami pemekaran menjadi Kabupaten Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Untuk mencapai Tana Toraja, kamu bisa menggunakan jalur darat dan udara dari Makasar. Saya memilih jalur darat karena alasan biaya yang sudah pasti jauh lebih murah dan rasa penasaran ingin mencoba bis malamnya yang terkenal super nyaman. Beneran nyaman?? #IMHO, jauh deh kalau dibandingkan dengan bis-bis di Pulau Jawa. Kursi bisnya berukuran jumbo, sangat empuk dan nyaman. Ada sandaran kaki yang bisa dinaikan jadi nggak bikin kaki pegal selama perjalanan. Jarak baris antar kursinya juga lega jadi kursi bisa diluruskan sampai 180 derajat, enak banget buat tidur. Plus lagi kita dikasih selimut dan bantal, makin enak deh tidurnya. Saya membeli tiket bis kelas ekonomi seharga Rp. 140.000,- Untuk kelas ekonomi saja fasilitasnya sudah lumayan oke kok, apalagi kalau ambil yang kelas premiere, katanya kursinya ada pijat elektrik, lampu baca, TV, dan free WIFI.

bisnya gede plus gambar hello kitty yang unyu banget hehe..


interior dalam bis, selimutnya juga lucu kan (ini sih ga penting hehe)

kursinya kurang lebih kaya gini, ada senderan kakinya

Perjalanan Makassar – Tana Toraja yang memakan waktu 8-9 jam perjalanan jadi nggak kerasa. Kamu bisa naik bis nya langsung di pool bis masing-masing. Pilihannya ada banyak, tapi rata-rata kualitas bisnya sudah sama baiknya. Saya memilih naik bis primadona. Bisa beli tiket secara online juga disini.

Jadi ke mana aja saya selama di Toraja? Ini dia beberapa destinasi yang membuat kita kagum dengan wisata kematian ala Toraja :


Friday, February 24, 2017

Movie Review : Bukaan 8




“Kalau kamu tanya cinta itu apa, cinta itu nggak pernah beralasan. Cinta itu ya cinta.”


Awalnya gara-gara nonton video yang di posting oleh Chicco Jerikho di akun instagramnya, saya jadi penasaran banget dengan film bukaan 8. Video itu ceritanya video honeymoon Alam dan Mia, dan mereka saling memberikan testimoni. Durasinya Cuma  1 menitan tapi sukses bikin saya melted dan kepingin nonton filmnya.  Lihat trailernya, baca review orang-orang yang habis nonton di premiere filmnya, bikin saya makin penasaran. Jadilah tanggl 23 kemarin, di hari pertama filmya release, saya langsung nonton film ini.

Bukaan 8 bercerita tentang pasangan suami istri, Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela) yang sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Alam, seorang selebtweet, blogger idealis, dan pemilik penerbitan indie menginginkan Mia melahirkan di rumah sakit terbaik. Namun sayangnya, uangnya tidak cukup karena promosi di rumah sakit tersebut sudah habis. Alam kemudian pontang-panting cari uang untuk menutupi biaya rumah sakit Mia. Suasana makin ramai dengan hadirnya Abah (Tyo Pakusadewo), Ambu (Sarah Sechan) – orang tua Mia, dan ibunya Alam (Dayu Wijanto).

Salah satu karya Angga D. Sasongko ini memiliki premis yang sederhana sebetulnya, settingnya juga sempit dan hanya memakan waktu satu hari, mulai dari Mia masuk rumah sakit sampai dia melahirkan. Namun Angga berhasil menghidupkan skenario cerita dengan sangat baik. Plot-nya intense, lincah, sukses bikin saya nggak megang HP sepanjang film. Lucunya lumayan lah tapi dramanya dapet banget.


Saturday, February 11, 2017

Banyuwangi, Surga Kecil yang Tersembunyi






Waktu pertama kali saya akan travelling ke Banyuwangi, tempat pertama yang masuk bucket list saya adalah kawah ijen dan blue fire-nya yang terkenal. Selain kedua tempat itu, saya sama sekali belum punya bayangan ada tempat menarik apa sih di Banyuwangi. Jadi ketika ternyata saya batal menikmati golden sunrise ijen karena tidak ada jadwal open trip di waktu keberangkatan saya (iya lah berangkatnya bukan musim liburan) dan merasa kemahalan kalau pake private trip, saya pun cari alternatif lain yaitu explore pantai di Banyuwangi.

Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung paling timur pulau Jawa. Di sini terdapat pelabuhan Ketapang, yang merupakan perhubungan utama antara Pulau Jawa dan Bali (pelabuhan Gilimanuk).
Akses menuju Banyuwangi sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi karena tidak ada kereta langsung dari Jakarta atau Bandung, jadi beberapa alternatif pilihannya kamu bisa transit di Jogja, Surabaya atau Malang. Saya berangkat ke Banyuwangi dari Surabaya dengan kereta paling pagi menuju Banyuwangi. Sampai di stasiun Karang Asem Banyuwangi sekitar jam empat sore. Di sana kami sudah menyewa motor di banyuwangi adventura yang letak kantornya pas di depan stasiun Karang Asem. Dari sana kami langsung menuju hotel tempat kami menginap di New Surya Hotel di daerah Jajag.

Besoknya, saya dan partner traveling saya @tha_nte menuju  destinasi pertama kami, teluk hijau. Pantai Teluk Hijau ini lokasinya di area Taman Nasional Meru Betiri, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi. Jaraknya dari kota Banyuwangi sekitar 90 KM. Kalau dari hotel tempat kami menginap sekitar 50 KM atau kurang lebih 2 jam naik motor.

Untuk menuju teluk hijau bisa melalui jalur darat atau naik perahu dari pantai Rajegwesi. Kalau kamu berencana pergi ke teluk hijau, sebaiknya memilih waktu pagi hari. Karena selain jarak tempuhnya yang lumayan, nanti kamu akan memasuki kawasan perkebunan yang cukup sepi. Nggak kebayang kan kalau pulangnya terlalu sore, pasti gelap dan agak serem juga. Dari kota sampai kawasan perkebunan jalannya bagus dan diaspal. Tapi sesudah melewati kawasan perkebunan jalannya lumayan rusak. Siap-siap offroad ya gaess.

Jalan di area perkebunan, jalannya masih bagus

sisanya siap-siap offroad di jalan berlubang kaya gini

Sampai di Rajegwesi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 2 KM menuju teluk hijau, atau bisa juga naik ojek atau melalui jalur laut dengan naik perahu. Saya sempat sih coba lanjut naik motor sendiri dan berakhir dengan balik lagi ke tempat sewa perahu karena jalannya rusak parah. Nyerah deh, mending sewa perahu aja. Sewa perahu di sini nggak mahal kok. Cukup dengan membayar Rp. 35.000/ orang untuk pulang pergi dari Rajegwesi-Teluk Hijau.

nunggu perahu siap di pantai Rajegwesi sambil foto-foto :)

this is it..teluk hijau (plus perahu yang kami tumpangi)

Semua perjalanan yang  melelahkan tadi terbayar sudah ketika kami sampai di teluk hijau. Pantainya bersih banget, tenang, sepi (ini beneran sepi, cuma ada saya dan @tha_nte sama tukang perahunya, dan beberapa wisatawan lain yang sudah sampai duluan di sana. Jadi serasa pantai punya sendiri). Gradasi warna air lautnya yang biru kehijauan dengan hamparan batu-batu karang menghasilkan pemandangan yang oh so breathtaking. Ditambah lagi air terjun setinggi 8 meter di dekat pantai, keren banget.






nah ini air terjunnya, semoga keliatan hehe..

Ada sedikit cerita seru waktu saya traveling ke teluk hijau ini. Kami sempet nyasar beberapa kali karena GPS kami kehilangan sinyal. Tanya penduduk pun agak sulit karena jalan menuju teluk hijau memang sepi penduduk. Sekalinya nemu penduduk mereka akan memberi petunjuk seperti “terus aja jalan ke arah selatan” atau “udah deket mbak, pantainya di sebelah selatan.” Buat yang buta arah kaya saya dan terlalu mengandalkan GPS jadi lumayan kerepotan deh. Ditambah petunjuk jalan yang memang tidak terlalu banyak. Jadi buat kamu yang memang ada rencana ke teluk hijau dengan kendaraan pribadi, preparation itu penting. Kalau perlu ya bawa peta dan kompas sekalian.

Note :
  • Waktu masuk area perkebunan yang menjadi satu-satunya jalan menuju Teluk Hijau, kamu wajib lapor dan mengisi buku tamu. Begitu juga ketika pulang, kamu wajib lapor kembali. Kata penjaga pos, tujuan lapor ini sih untuk mencegah ada pengunjung yang tersesat dan belum kembali setelah hari gelap.
  • HTM masuk teluk hijau Rp. 6.000,-/ orang
  • Ada banyak pohon buah naga di sepanjang jalan menuju Teluk Hijau. Kalau lagi musim, penduduk sekitar menjualnya dengan harga murah. Lumayan kan cukup dengan Rp. 5.000/ kg sudah dapat buah naga yang segar-segar.

Setelah puas di teluk hijau, kami melanjutkan perjalanan ke pantai mustika dan pantai pulau merah. Pantai pulau merah dan mustika ini masih satu garis pantai dan letaknya tidak berjauhan. Perjalanan menuju kedua pantai ini tidak se-ekstrim seperti perjalanan ke teluk hijau tadi. Kedua pantai ini memiliki kecantikannya masing-masing. Pulau merah yang memikat dengan bentuknya yang menyerupai pegunungan di tengah pantai. Di Pantai Pulau Merah juga ombaknya lumayan besar sehingga cocok bagi para penggemar surfing. Sementara di Pantai Mustika, ombaknya relatif aman untuk berenang. Pasirnya putih dan relatif masih cukup bersih. Paling enak duduk santai di saung-saung yang disewakan di pinggir pantai dan minum es kelapa muda.

pantai pulau merah dan bukitnya yang ada di tengah laut

in frame : @tha_nte
Note :
  • HTM pantai pulau merah Rp. 8.000,-/ orang, belum termasuk parkir
  • Menurut penduduk sekitar, Pantai Pulau Merah adalah tempat yang paling pas untuk menikmati sunset.

Hari ke – 2
Hari ke-2 sekaligus jadi hari terakhir saya di Banyuwangi. Iya saya memang ngga spent waktu lama di Banyuwangi mengingat jadwal trip saya sebelumnya yang sudah lumayan panjang (masa iya kan nggak pulang-pulang). Jadi ke Banyuwangi ini ibaratnya Cuma singgah sebentar, mumpung saya lagi ada di Surabaya.  Meskipun agak menyesal juga sih karena ternyata Banyuwangi masih punya banyak pantai keren lainnya yang bisa di explore.

Pagi-pagi dari hotel saya langsung menuju Jawatan Benculuk. Jaraknya hanya sekitar 6 KM dari hotel saya menginap atau sekitar 15 menit naik motor. Jawatan Benculuk ini adalah sebuah hutan kecil seluas 3.8 hektar milik Perhutani. Di sini banyak tumbuh pohon-pohon Trembesi/ Saman yang berukuran besar dan tua. Seperti biasa untuk masuk area ini, kamu wajib lapor dan mengisi buku tamu. Tidak dikenakan biaya masuk dan parkir.

Jawatan Benculuk sebenarnya sudah sangat populer di kalangan masyarakat sekitar. Katanya areanya yang sejuk dengan rumput-rumput yang empuk dan berkualitas tinggi menjadikan tempat ini biasa digunakan untuk tempat piknik, olahraga, naik sepeda, sampai lokasi foto prewedding.


deretan pohon trembesi yang megah di jawatan benculuk



Tapi waktu saya ke sana, saya sama sekali nggak menemukan area piknik yang diceritakan. Rumput-rumput hijaunya nggak ada, mungkin karena musim hujan jadi yang tersisa adalah tanah basah berlumpur yang lumayan sulit untuk ditempuh naik motor. So, parkir motor di dekat pos dan jalan kaki adalah pilihan yang paling tepat. Jawatan benculuk lebih mengesankan seperti hutan kecil di tengah kota dengan pohon-pohon besar yang eksotis dan megah.

Notes :
  • Jawatan benculuk lokasinya di dekat pertigaan Benculuk yang menuju Grajakan.  Gapura masuk Jawatan hanya berjarak beberapa puluh meter dari jalan raya. Dari depan memang tidak terlihat ada hutan, tapi setelah memasuki gapura baru deh kita disambut hamparan hutan yang luas di tengah kota.
  • Ketika lapor di pos masuk, kami diingatkan untuk hati-hati di area hutan karena suka ada penduduk yang meminta uang dengan alasan biaya masuk Jawatan. Kalau bertemu dengan mereka, kami disuruh ngaku-ngaku saudaranya polisi hutan di sana. Lucu juga yaa..untung ketemu polisi hutannya baik, jadi nggak kena pungutan liar deh..
  • Di area Jawatan ada banyak kelelawar yang tinggal di bangunan lama Jawatan. Jadi jangan heran kalau dekat bangunan ini ada bau-bau yang nggak enak

Setelah puas foto-foto di Jawatan Benculuk, kami check out dari hotel New Surya dan langsung menuju stasiun Karang Asem. Saya naik kereta paling malam dari Banyuwangi ke Surabaya. Karena masih ada waktu, saya masih bisa explore pantai yang tidak terlalu jauh dari kota. Sementara barang-barang dititipkan di homestay yang juga disediakan oleh Banyuwangi Adventura.

Pilihan saya jatuh kepada Pantai Boom. Pantai ini berada di pusat kota Banyuwangi dan merupakan pantai di selat Bali. Dari pantai ini kita bisa melihat pulau Bali dari kejauhan. Mungkin karena jaraknya yang dekat dengan pusat kota, pantai ini pun cukup ramai dikunjungi oleh penduduk sekitar. Untuk pemandangannya sih masih kalah jauh dibandingkan ketiga pantai yang saya kunjungi sebelumnya. Tapi pantai ini lumayan juga kok untuk sekedar bersantai dan bermain air di pinggiran pantainya.


pintu masuk pantai Boom

payung-payung yang disewakan di pantai Boom, langsung menghadap pulau Bali.

Notes :
  • HTM pantai Boom Rp. 5.000,- /orang


Overall, perjalanan ke Banyuwangi yang lumayan penuh perjuangan terbayar sudah dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Mulai dari hamparan pegunungan, perkebunan, Taman nasional, dan pantai-pantainya yang indah. Sayang lokasi-lokasi wisatanya jaraknya berjauhan. Next time kalau ada kesempatan lagi ke Banyuwangi perlu waktu lebih lama untuk bisa explore tempat-tempat indah lainnya.

Tha..110217..3 p.m.


Thursday, January 26, 2017

Movie Review : La La Land





Lama setelah film musical favorite saya The Sound of Music dan Les Miserables kerinduan saya dengan film sejenis baru terjawab sekarang. La La Land, film drama musikal yang kemarin cukup happening karena mendominasi banyak penghargaan film internasional ini sukses mencuri perhatian.

Film ini bercerita tentang Mia (Emma Stone) seorang gadis cantik yang bercita-cita menjadi seorang aktris dan berkali-kali gagal audisi, dan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pianis jazz idealis yang bercita-cita memiliki klub jazz-nya sendiri. Seperti kisah boys meet girls pada umumnya, Mia dan Sebastian bertemu kemudian saling jatuh cinta dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan impian masing-masing.

Alur cerita antara Mia dan Sebastian yang sederhana jadi terasa begitu istimewa karena dibalut dengan lagu-lagu yang ear catchy dan koreografi yang memukau. Emma Stone tampil stunning dengan dress-dress cantiknya, sementara Ryan Gosling, nggak usah ditanya ya, dia sih selalu drop dead gorgeus menurut saya (subjektif banget hehe..)

As cliche as it my sound, pesan film ini adalah tentang jangan menyerah untuk mengejar impian. Sama seperti Emma dan Sebastian, mungkin kita juga pernah memiliki setidaknya satu impian besar dalam hidup. Seiring berjalannya waktu, mungkin kita pernah juga gagal, berhadapan dengan realita yang memaksa kita akhirnya mempertanyakan lagi ‘Worth it nggak sih mimpi ini gue kejar?’ It sound familiar ya? Jadi rasanya sih nggak ada salahnya kita menonton film yang satu ini.


Oh ya, just for your information, film karya Damien Chazelle ini sukses meraih rekor sebagai film dengan penghargaan terbanyak sepanjang sejarah Golden Globe, dengan total 7 penghargaan. Wow banget kan..Jadi tunggu apa lagi? Segera tonton filmnya dan siap-siap dibuai oleh lantunan lagu-lagu indah dan kisah cheesy romance Mia dan Sebastian. Happy watching gaeess ^^

Tha..260117..7 p.m.


Friday, January 6, 2017

Movie Review : Cek Toko Sebelah





Cek Toko Sebelah merupakan film pertama yang saya tonton di tahun 2017, dan menjadi pembuka yang manis. Film ini sukses membuat saya percaya kalau film nasional sekarang sudah banyak kok yang bagus dan layak tonton. Jadi nggak sabar untuk nonton film Indonesia lainnya sepanjang tahun 2017 (salah duanya : #CriticalEleven & #FilosofiKopi2).

Cek Toko Sebelah bercerita tentang Koh Afuk (Chew Kin Wah) – etnis Tionghoa – yang memiliki sebuah toko kelontong dengan beberapa pegawainya. Koh Afuk memiliki dua orang anak, si sulung Yohan (Dion Wiyoko) yang sudah menikah dengan Ayu (Adinia Wirasti), dan si bungsu Erwin (Ernest Prakasa) yang sukses dengan karirnya dan berpacaran dengan Natalie (Gisella Anastasia). Konflik dimulai ketika Koh Afuk mulai sakit-sakitan dan bermaksud mewariskan usahanya justru pada Erwin anaknya yang bungsu. Yohan yang merasa lebih berhak sebagai anak sulung pun naik pitam. Sementara itu, Erwin yang sedang berada di puncak karirnya justru dibuat gamang dengan keinginan ayahnya tersebut.

Film Cek Toko Sebelah buat saya sih related banget dengan kehidupan sehari-hari . Siapa sih yang nggak familiar dengan kondisi ini, belanja ke toko kelontong/ plastik/ bahan bangunan, ada koko-koko tua yang punya toko, pas mau bayar ada anaknya jaga di kasir. Tambah lagi pegawai-pegawai tokonya yang pada keringetan ngangkut-ngangkut barang. Saya yang sejak kecil bersekolah di sekolah Kristen yang 95% anak-anaknya berasal dari etnis Tionghoa rata-rata orang tuanya memang memiliki usaha/ toko seperti Koh Afuk. Kemudian salah satu dari anaknya pasti akan mewariskan toko tersebut.

Ernest Prakasa yang kali ini terjun langsung sebagai sutradara dan penulis skenario sukses membuat alur film ini mengalir dengan apik dari awal. Balutan komedi segar pun sukses membuat saya tertawa tanpa merasa garing sedikit pun. Begitu pun nuansa drama yang disajikan, terasa pas dan cukup emosional. Nonton film ini memang benar-benar memainkan emosi, dari ketawa kemudian berkaca-kaca, terharu, tertawa lagi, kemudian sedih lagi, begitu terus dari awal tanpa merasa bosan.

Karakter-karakter di film ini diperankan dengan pas, tapi yang paling mencuri perhatian buat saya sih jelas aktingnya Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti. Beberapa kali nonton filmnya Dion belum pernah ada yang aktingnya sebagus ini. Dion sepertinya mengalami kemajuan pesat dalam kemampuannya berakting. Kalo Adinia Wirasti sih nggak usah diragukan lagi. Salah satu aktris favorit saya ini benar-benar bisa menghidupkan tokoh Ayu yang kalem, istri yang baik, dan kayanya sukses bikin standar cowok-cowok buat cari istri makin tinggi hehe..

Well, kalau ditanya adegan favorit sih, banyak.. Waktu Yohan ngomong ke Ayu, “Yang berkewajiban mewujudkan mimpi kamu itu saya, bukan orang lain.” (cewek-cewek pasti melted gimana gitu pas adegan ini). Waktu Yohan ngobrol sama Erwin di rumah sakit, dan diceritain Erwin yang sebenarnya adore sama kakak satu-satunya ini (bikin terharu gimana gitu), dan setiap kali bosnya Erwin muncul terus nyanyi (kocak banget dan jadi kebawa-bawa nyanyiin lagunya).

Overall, film dengan tema keluarga selalu menjadi favorit saya. Coz Family is not an important thing, it is everything. Buat ko @ernestprakasa, cc @meiraa_, dan cc @JennyJusuf yang juga ikut terlibat dalam pembuatan script film Cek Toko Sebelah, bravo buat kerja kerasnya. Karya yang dibuat tulus dari hati pada akhirnya sampai juga ke hati ^^  


Tha..060117..3 p.m.