Friday, August 4, 2017

Indahnya Danau Kelimutu yang Mendunia






Danau Kelimutu yang pernah jadi gambar di uang pecahan lima ribu rupiah edisi lama menjadi salah satu bucket list tempat yang ingin saya kunjungi. Beruntung, ketika melakukan perjalanan #exploreflores beberapa waktu yang lalu, impian saya untuk jalan-jalan ke Danau Kelimutu akhirnya terwujud.

Melawan rasa dingin yang menusuk, mengabaikan kaki yang masih lelah setelah perjalanan panjang sebelumnya, saya pun bersiap untuk menyambut matahari terbit di Danau Kelimutu.

Keunikan Danau Kelimutu
Danau Kelimutu atau yang dikenal juga dengan sebutan Danau Tiga Warna, terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Disebut Danau Tiga Warna karena Danau ini memiliki tiga warna yang berbeda. Waktu saya ke sana, Danau Kelimutu sedang berwarna hijau tosca, hijau tua, dan hitam pekat. Konon katanya warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Ada yang bilang warna danau mencerminkan kondisi negara kita, Indonesia. Jika berwarna merah berarti negara kita sedang dalam masalah. Namun jika berwarna biru, negara kita sedang dalam kondisi yang stabil.

Berdasarkan penjelasan ilmiah, warna di Danau Kelimutu yang berubah-ubah ini dipengaruhi oleh kandungan mineral, pengaruh bebatuan, lumut di dalam kawah, dan cahaya matahari. Sementara itu, suku Lio di Flores percaya bahwa Danau Kelimutu merupakan tempat persemayaman terakhir dari jiwa-jiwa yang sudah meninggal.

Rute menuju Danau Kelimutu
Dari Jakarta kita bisa menggunakan penerbangan terlebih dahulu ke Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur (Bandara El Tari) kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke Ende (Bandara H Hasan Aroeboesman). Setibanya di Ende, perjalanan dilanjutkan bisa dengan menggunakan angkutan umum berupa taksi avanza, minibus, atau ojek menuju Moni. Desa Moni merupakan desa terdekat dengan Danau Kelimutu. Jangan kaget ketika sampai di Ende, kita akan disambut oleh penduduk lokal yang menawarkan jasanya untuk mengantar kita ke Moni. Tinggal pilih-pilih yang paling nyaman dan sesuai budget ya. Saya menggunakan taksi avanza dengan biaya Rp. 150.000,- sekali jalan. Siap-siap juga menikmati perjalanan Ende-Kelimutu yang berkelok-kelok dan curam. Pemandangan tebing-tebing, jurang, dan hutan akan kita lihat sepanjang jalan.

Sedikit Cerita Perjalanan ke Danau Kelimutu
Ada beberapa pilihan untuk mengejar sunrise di Danau Kelimutu. Pilihan pertama adalah menginap di Ende dan menyewa mobil langsung ke Danau Kelimutu. Ini berarti kkita harus berangkat dari Ende sekitar jam 1 pagi. Pilihan kedua adalah menginap di Moni. Butuh waktu sekitar 30 menit berkendara dari Moni menuju pintu masuk pendakian Taman Nasional Kelimutu. Sudah ada banyak homestay dan penginapan di Moni dengan harga yang relatif terjangkau. Dari Moni kita bisa sewa motor, sewa mobil, atau naik ojek menuju Danau Kelimutu.

Saya memilih alternatif yang kedua untuk menghemat waktu. Sehari sebelumnya saya menginap di Christin Lodge, di Moni seharga Rp. 200.000,- /malam. Sekitar pukul 3 pagi, saya sudah bersiap-siap untuk memulai perjalanan ke Danau Kelimutu. Dengan bantuan Bapak pemilik penginapan, yang juga mengantarkan saya dari Ende ke Moni, saya cukup membayar Rp. 150.000,- untuk PP Moni-Kelimutu dengan menggunakan mobil.

Sesampainya di pintu masuk, kita perlu membayar HTM Rp. 5000/ orang untuk wisatawan lokal. Jarak tempuh menuju puncak sekitar 2 KM atau sekitar 30 menit berjalan kaki. Waktu saya ke sana tidak ada guide lokal yang menemani. Untungnya ketika saya datang ada beberapa turis asing yang juga akan mengejar sunrise, jadi kami pergi bersama berbekal senter kecil dan cahaya dari HP masing-masing. Jalur menuju puncak juga tidak sulit. Jalannya sudah baik dengan papan-papan petunjuk jalan yang jelas.


Jalur yang dilalui menuju puncak


Danau yang pertama kita jumpai adalah Tiwu Ata Polo, danau yang diyakini tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup melakukan kejahatan/ tenung. Selanjutnya ada Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Yang ketiga adalah Danau Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya roh-roh leluhur atau orang tua yang telah meninggal. Setiap tahunnya di Danau Kelimutu diadakan ritual adat Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata yaitu ritual untuk mengucap syukur atas tahun yang telah dilewati dan memohon berkat untuk tahun yang akan datang.

Tiwu Ata Mbupu

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai & Tiwu Ata Polo

 pedagang di area Danau Kelimutu

Sambil menunggu matahari terbit, kita bisa menyeruput secangkir kopi atau minuman hangat lainnya yang banyak dijual penduduk setempat di area sekitar danau. Dengan harap-harap cemas, saya menunggu matahari menampakkan wajahnya. Namun sayang, pagi itu agak mendung, sang surya pun tertutup awan dan kabut masih menyelimuti Danau Kelimut. Saya hampir saja kecewa. Tapi rupanya setiap langkah yang membawa saya ke Danau Kelimutu tidak sia-sia. Perlahan semburat jingga mulai terlihat di langit. Kabut tipis pun hilang dan memperlihatkan kemilau danau yang memantulkan cahaya mentari. Sang Surya telah menyapa dan memberi rasa hangat hingga ke hati, menyajikan pemandangan Danau Tiga Warna yang mempesona.


Selamat Pagi Kelimutu! Selamat Pagi Indonesia!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Travel Blogger Contest yang diadakan oleh www.sumber.com





Thursday, July 13, 2017

Movie Review Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody





Di postingan saya sebelumnya yang ini, saya sempat cerita kalau filosofi kopi 2 jadi film yang saya tunggu-tunggu sejak lama. Alasannya simple sih, karena karakter Ben, Jody dan cerita persahabatan mereka yang meninggalkan kesan special buat saya.

Seneng banget, tanggal 12 Juli kemarin saya berkesempatan ikutan meet and greet sekaligus gala premierenya di Bandung. Bisa ketemu langsung sama dua aktor keren, Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, yang tidak hanya bersahabat di film tapi juga dalam kesehariannya, menjadi pengalaman yang cukup menyenangkan.

Berbeda dengan filosofi kopi pertama yang diangkat dari kumpulan cerpen karya Dee Lestari dengan judul yang sama, kali ini filosofi kopi 2 adalah hasil pengembangan cerita dari penonton melalui lomba #NgeracikCerita.

Filosofi kopi 2 : Ben dan Jody, masih bercerita soal ambisi Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) yang kembali untuk membuka kedai kopi di Jakarta, setelah dua tahun sebelumnya menjual kedai dan berkeliling Indonesia dengan combie untuk mengenalkan kopi terbaik. Kalau soal sinopsis lengkap, silakan kamu bisa googling sendiri ya karena sudah banyak juga yang nulis di internet.

Kalau di Filosofi Kopi yang pertama hadir El (Julie Estelle) yang mewarnai persahabatan Ben dan Jody, kali ini ada tokoh-tokoh baru yaitu Tara (Luna Maya) yang muncul sebagai investor yang ikut terjun untuk membuka kedai di Jakarta dan Brie (Nadine Alexandra) barista lulusan Melbourne yang di awal cerita selalu berselisih dengan Ben. Kehadiran dua tokoh wanita di film ini memberikan warna baru bagi cerita yang pastinya lebih segar dengan bumbu cinta segi empat di antara mereka. Bagi saya pribadi sih nuansa drama percintaannya kurang terasa, adegan-adegan komedi romantisnya juga terasa kurang, mungkin memang sengaja dihadirkan hanya sebagai pelengkap.

Source : Facebook/Filosofi Kopi

Bicara soal chemistry antar pemain jelas paling kuat dirasakan antara Chicco dan Rio. Nggak banyak film yang sukses mengangkat cerita persahabatan ala-ala bromance di Indonesia. Mungkin kalau kamu pernah nonton bromance seperti Joey&Chandler (serial Friends), Dominic Toretto&Brian O’Connor (The Fast and Furious), Harry Potter&Ron Weasley, Boy&Andi (Catatan si Boy – jadul banget, jadi ketauan umurnya deh), Ben dan Jody ini bisa menjawab kerinduan kita dengan cerita persahabatan antar cowok-cowok yang maskulin, lucu, dan punya impian masing-masing.

Source : Facebook/Filosofi Kopi

Yang saya suka dari Filosofi kopi 2, karakter Ben dan Jody mengalami perkembangan. Persahabatan mereka lebih mature, lebih berani untuk memperjuangkan mimpi masing-masing tanpa mengorbankan persahabatan.

“Memang salah ya kalau kita memperjuangkan apa yang pantas jadi milik kita?“ 
"Jod, nggak semua hal lo harus mengalah dari Ben. Kayak dulu lo mengalah soal El.” 

Salah seorang sahabat saya pernah menulis ini di caption Instagramnya :
Dalam setiap hubungan pasti ada pasang surutnya. Mau itu dengan pasangan, orang tua, apalagi sahabat. That’s what makes your relationship alive. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan ketika hubungan itu sedang turun? Meminta maaf, menghubungi mereka, mengiyakan ajakan bertemu, tetap menjadi diri sendiri dan menjadi pribadi yang lebih baik. When you lose their track, catch up. Cause real friends don’t have to talk everyday, but when you call, they answer.

Seperti Ben dan Jody yang tidak selalu bersama karena pada akhirnya tetap harus melanjutkan hidup masing-masing, tapi persahabatan mereka tetap kuat adanya.

Habis nonton ini saya sih jadi inget sahabat-sahabat saya, my support system yang sekarang mungkin udah mencar ke mana-mana, yang kadang berantem tapi tetep nggak bisa marah lama-lama. Jadi inget papa juga (adegan antara Ben dan bapaknya juga keren banget di film ini), yang nggak ada so sweet-so sweet nya sama sekali tapi saya tahu dia sayang banget sama saya.

So guys, enjoy the movie with your special one, bisa sahabat, keluarga, pacar, atau kalau pun harus dinikmati sendiri, film ini dapat dinikmati layaknya kamu menikmati secangkir kopi favorit. Karena setiap hal yang punya rasa, pasti punya nyawa.





Friday, July 7, 2017

Menelusuri Indahnya Desa Tenganan, Bali





Terakhir kali saya jalan-jalan ke Bali beberapa waktu yang lalu, saya banyak nyobain hal baru. Mulai dari berburu seafood di pasar yang sudah saya ceritakan di sini, dan mengunjungi salah satu desa tradisional di Bali, yaitu desa Tenganan. Terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem atau berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Denpasar, Desa Tenganan merupakan salah satu desa dari tiga desa Bali Aga, selain Trunyan dan Sembiran.

Bali Aga atau Bali asli adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup tradisional yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunannya, pengaturan letak bangunan hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat secara turun temurun (source : wikipedia).




Monday, June 19, 2017

Berburu Seafood di Pasar Kedonganan Bali



Setiap kali berkunjung ke Bali, saya hampir tidak pernah memasukan seafood ke dalam bucket list kuliner yang ingin dinikmati selama di Bali. Selain karena agak jarang nemu seafood enak di Bali (enak itu relatif sih ya, yang enak kalo jatohnya mahal buat saya tetep jadi nggak enak hehe..), saya juga lebih tergoda untuk mencicipi kuliner khas Bali yang lain. Ujung-ujungnya makan Pak Malen lagi, makbeng lagi, atau nyobain kafe-kafe enak di sekitaran Bali. Tapi kan penasaran dong ya, Bali yang terkenal punya pantai cantik ini masa iya nggak punya seafood enak, baik enak di lidah dan enak di kantong, dan bisa jadi rekomendasi kalau main-main ke Bali lagi.

Waktu pertama kali jalan-jalan ke Bali beberapa tahun yang lalu, saya makan seafood di tepi pantai jimbaran. Iya makan di resto pinggir pantai, yang diiringin musik dan suasananya romantis banget itu, dan iya yang mahal itu lho..Tapi selain suasana kece yang ditawarkan, selebihnya buat saya sih biasa aja. Ternyata, nggak jauh dari jimbaran ada pasar ikan tempat kamu bisa berburu seafood segar dan langsung dimasak di sana. Namanya Pasar Ikan Kedonganan.

Jangan sampe salah kostum, namanya juga belanja ke pasar ikan pasti becek dong ya..singkirkan dulu dress-dress cantiknya



Monday, May 22, 2017

Ke Ora Beach Nggak Pake Mahal?? Baca Ini Dulu..





Ingin merasakan luxury staying on top of the clear seawater, dengan hamparan coral dan ikan-ikan cantik yang terlihat jelas? Bayangkan, kamu ada di sebuah pulau, menginap di villa cantik di atas air yang langsung menghadap laut dan begitu buka pintu kamar, kamu akan disambut air laut yang memantulkan kemilau cahaya matahari. Take a deep breath gaess, this is it..Ora Beach Resort.

Nggak perlu jauh-jauh ke Maldives atau Bora Bora, karena Ora Beach Resort menyajikan keindahan yang tidak kalah dari dua tempat yang telah mendunia itu. Ora Beach Resort sebenarnya sudah dibangun cukup lama, tapi memang baru beberapa tahun belakangan ini namanya semakin terkenal. Coba ketik ‘Ora Beach’ di search engine dan kamu akan menemukan banyak paket tur yang menawarkan jasa tripnya ke sana. Mulai dari yang harganya mahal sampai mahal banget. Memang sudah bukan rahasia untuk traveling ke Indonesia Timur kita perlu merogoh kocek yang lumayan. Mulai dari harga tiket pesawatnya yang jarang banget ada promo, belum lagi untuk mencapai lokasi tertentu kadang kita harus sewa boat yang juga tidak murah. Demi alasan kepraktisan, kita bisa aja join trip atau ambil paket tur yang ditawarkan banyak travel agen. Tapi kali ini saya mau coba share pengalaman saya ke Ora Beach Resort ala traveler BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita), berangkatnya ngeteng (baca : naik angkutan umum yang murah meriah itu loh).

Oke, klo kamu mau ke Ora Beach, lets start  from Ambon. Dari terminal kota Ambon, kamu harus naik angkot warna merah ke arah Pelabuhan Tulehu. Dari Pelabuhan Tulehu naik kapal cepat ke Pelabuhan Amahai (Masohi). Kapal menuju Amahai ini berangkat setiap hari jam 9 pagi dan jam 2 siang. Waktu tempuh kapal cepat ini sekitar 2 jam perjalanan. Untuk rincian biaya, saya jelaskan di catatan kecil di bagian akhir postingan ini ya.



Sunday, May 14, 2017

Rahasia Tetap Fit dan Bugar Selama Traveling





“Kamu kok enak banget sih kerjanya jalan-jalan mulu?”
“Pengen deh bisa sering jalan-jalan kaya kamu.”
“Abis ini jalan-jalan ke mana lagi, Mit?”

Percaya atau nggak, pertanyaan seperti itu sering banget mampir di tab mention, komen di IG atau mungkin ditanyakan oleh beberapa teman ketika bertemu dengan saya secara langsung. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang membuat saya berpikir, mereka hanya lihat bagian enaknya, but they didn’t know the process behind it.

Begitu pun dengan foto-foto cantik yang saya pajang di IG. Di balik foto pantai yang biru dan tenang, ada perjuangan berjam-jam naik kapal untuk menuju ke sana. Di balik foto keren di atas bukit, ada usaha untuk mencapai puncak. Simple-nya sih, yang orang lihat di IG kan the curated version, the best fraction of someone’s life. Lagipula siapa juga yang mau lihat foto jelek,kan?

Travelingnya sih enak, tapi susah-susahnya ya ada juga. Seperti misalnya harus lari-lari di bandara karena hampir ketinggalan pesawat, nginep di hotel yang nggak secantik gambarnya, dan sakit waktu lagi traveling.

Sakit pas lagi traveling? Beneran saya pernah mengalaminya. Waktu ke Penang beberapa bulan yang lalu, badan saya sempet drop. Tiap malam badan demam dan menggigil. Paginya badan sih enakan, tapi karena lanjut jalan-jalan, malamnya drop dan demam lagi. Rasanya nggak enak dan ganggu banget. Kesel sendiri deh, giliran teman saya bisa asyik jalan-jalan, masa saya malah harus terkapar tak berdaya di kamar hotel. Sejak saat itu, nggak mau deh lagi-lagi sakit pas traveling (pas nggak traveling pun nggak mau sakit sih). Jadi sebisa mungkin untuk selalu jaga kesehatan. Toh bener kan pepatah yang bilang lebih baik mencegah daripada mengobati.

Makanya begitu traveling selanjutnya, saya pikir harus lebih prepare. Selama ini karena tiap traveling selalu aman-aman aja jadinya nggak terlalu concern sama badan. Padahal kan jaga stamina tubuh tuh penting banget. Apalagi selama perjalanan, bisa kurang tidur, makan juga seenaknya karena merasa lagi liburan jadi cobain semua makanan khas setempat. Kondisi kaya gini nih yang bisa bikin badan langsung drop. Untungnya sekarang ada Herbadrink sari temulawak yang cocok banget untuk menunjang segudang aktivitas saya terutama saat traveling.

My Traveling Essentials

Jadi waktu kecil dulu, oma saya sering kasih jamu temulawak katanya supaya meningkatkan daya tahan tubuh, membantu pencernaan, dan menjaga fungsi hati. Ternyata memang terbukti loh, dari kecil saya ini termasuk orang yang jarang sakit. Tapi kan, cari temulawak sekarang juga nggak gampang. Belum lagi harus mau repot bikinnya. Begitu kenal sama Herbadrink sari temulawak, langsung jatuh cinta dan jadi minuman wajib yang harus ada setiap kali traveling. Senengnya lagi, karena kemasannya sachet, jadi praktis dan nggak berat dibawa ke mana-mana. Tinggal seduh pake air, jadi deh. Segar, enak, dan nggak ada endapan.

 Kemasan sachet praktis dan simple dibawa ke mana pun

Oh ya, minum herbadrink sari temulawak ini nggak hanya saya lakukan saat traveling aja. Buat minuman sehari-hari juga bisa banget. Kalau lagi dikejar deadline tulisan, kadang bisa begadang buat nulis. Pas banget minum herbadrink sari temulawak supaya nggak gampang sakit karena kurang tidur. Belakangan saya juga baru tahu kalau temulawak pun berkhasiat menjaga kadar kolesterol dalam darah. Pas banget buat saya dan kamu yang suka kulineran. Nggak ada salahnya kan investasi untuk kesehatan dari sejak kita muda?



Nah, buat kamu yang penasaran dan ingin juga menikmati manfaat dari herbadrink sari temulawak, sekarang sudah bisa dibeli di supermarket dan minimarket. Belanja online pun bisa di sini


So, tunggu apa lagi? Traveling sekarang dan jangan lupa herbadrink sari temulawak.
Lets go to the beach !!

 Siap untuk jalan-jalan lagi ^^





Friday, May 5, 2017

Serunya Naik Kapal Pelni ke Makassar






“Tiketnya belum dicap, Mbak. Harus dicap dulu di loket depan.” Kata bapa yang memeriksa tiket di depan pintu kapal. Melawan rasa lelah dan mengabaikan kerumunan tukang ojek yang langsung berebut menawarkan jasanya untuk mengantar saya ke loket depan yang berjarak kurang lebih 500 meter dari kapal, saya pun memutuskan untuk berjalan kembali ke loket. Padahal saya sudah melewati loket tadi, tapi tidak adanya petugas yang memberi tahu membuat saya dan Martha harus bolak-balik. Dengan ransel seberat hampir 9 kilo yang saya bawa, tergoda sebenarnya menggunakan ojek atau jasa porter yang ramai di pelabuhan. Tapi sebagai traveler BPJS (Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita), saya harus menahan diri dari pengeluaran-pengeluaran ‘manja’ yang sebetulnya bisa dihindari.

Naik kapal Pelni dari Labuan Bajo ke Makasar ini pun merupakan siasat untuk membuat perjalanan saya lebih murah dan karena penasaran juga ingin tahu gimana rasanya naik kapal besar, berlayar lintas pulau.

Jadi gimana rasanya naik kapal Pelni selama 18 jam?? Ini dia ceritanya :


Tuesday, April 25, 2017

Makan dan Ngopi Cantik di Toraja #TanaTorajaPart2



Sesuai janji, saya akan melanjutkan cerita one day trip saya di Tana Toraja. Setelah setengah hari menjelajahi wisata kematian ala Toraja, sekarang saatnya kulineran. Dua point penting soal kuliner di Toraja yang mesti kamu tahu : Pertama, untuk kamu yang muslim, mesti agak selektif cari-cari tempat makan soalnya di sini rata-rata makanannya non halal. Kedua, kuliner khas Toraja nilainya enak dan enak banget. Overall sih cita rasa makanannya cocok di lidah saya. Langsung aja, ini dia kuliner khas Toraja yang sempat saya cicipi, plus di mana kamu bisa menemukannya :



Tuesday, April 18, 2017

Wisata Kematian di Tana Toraja yang Mempesona #TanaTorajaPart1





Kenapa disebut wisata kematian? Karena tempat-tempat yang iconic di Tana Toraja berkaitan dengan kuburan, tulang belulang jenazah, dan tempat orang meninggal. Tapi nggak perlu takut atau bergidik ngeri, karena tempat-tempat wisata di Tana Toraja justru unik dan membuat kamu terpesona.

Sedikit informasi tentang Toraja, Kabupaten Tana Toraja terletak di propinsi Sulawesi Selatan dengan ibu kota Makale. Kemudian wilayah kabupaten ini mengalami pemekaran menjadi Kabupaten Toraja Utara dengan ibu kota Rantepao. Untuk mencapai Tana Toraja, kamu bisa menggunakan jalur darat dan udara dari Makasar. Saya memilih jalur darat karena alasan biaya yang sudah pasti jauh lebih murah dan rasa penasaran ingin mencoba bis malamnya yang terkenal super nyaman. Beneran nyaman?? #IMHO, jauh deh kalau dibandingkan dengan bis-bis di Pulau Jawa. Kursi bisnya berukuran jumbo, sangat empuk dan nyaman. Ada sandaran kaki yang bisa dinaikan jadi nggak bikin kaki pegal selama perjalanan. Jarak baris antar kursinya juga lega jadi kursi bisa diluruskan sampai 180 derajat, enak banget buat tidur. Plus lagi kita dikasih selimut dan bantal, makin enak deh tidurnya. Saya membeli tiket bis kelas ekonomi seharga Rp. 140.000,- Untuk kelas ekonomi saja fasilitasnya sudah lumayan oke kok, apalagi kalau ambil yang kelas premiere, katanya kursinya ada pijat elektrik, lampu baca, TV, dan free WIFI.

bisnya gede plus gambar hello kitty yang unyu banget hehe..


interior dalam bis, selimutnya juga lucu kan (ini sih ga penting hehe)

kursinya kurang lebih kaya gini, ada senderan kakinya

Perjalanan Makassar – Tana Toraja yang memakan waktu 8-9 jam perjalanan jadi nggak kerasa. Kamu bisa naik bis nya langsung di pool bis masing-masing. Pilihannya ada banyak, tapi rata-rata kualitas bisnya sudah sama baiknya. Saya memilih naik bis primadona. Bisa beli tiket secara online juga disini.

Jadi ke mana aja saya selama di Toraja? Ini dia beberapa destinasi yang membuat kita kagum dengan wisata kematian ala Toraja :


Friday, February 24, 2017

Movie Review : Bukaan 8




“Kalau kamu tanya cinta itu apa, cinta itu nggak pernah beralasan. Cinta itu ya cinta.”


Awalnya gara-gara nonton video yang di posting oleh Chicco Jerikho di akun instagramnya, saya jadi penasaran banget dengan film bukaan 8. Video itu ceritanya video honeymoon Alam dan Mia, dan mereka saling memberikan testimoni. Durasinya Cuma  1 menitan tapi sukses bikin saya melted dan kepingin nonton filmnya.  Lihat trailernya, baca review orang-orang yang habis nonton di premiere filmnya, bikin saya makin penasaran. Jadilah tanggl 23 kemarin, di hari pertama filmya release, saya langsung nonton film ini.

Bukaan 8 bercerita tentang pasangan suami istri, Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela) yang sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Alam, seorang selebtweet, blogger idealis, dan pemilik penerbitan indie menginginkan Mia melahirkan di rumah sakit terbaik. Namun sayangnya, uangnya tidak cukup karena promosi di rumah sakit tersebut sudah habis. Alam kemudian pontang-panting cari uang untuk menutupi biaya rumah sakit Mia. Suasana makin ramai dengan hadirnya Abah (Tyo Pakusadewo), Ambu (Sarah Sechan) – orang tua Mia, dan ibunya Alam (Dayu Wijanto).

Salah satu karya Angga D. Sasongko ini memiliki premis yang sederhana sebetulnya, settingnya juga sempit dan hanya memakan waktu satu hari, mulai dari Mia masuk rumah sakit sampai dia melahirkan. Namun Angga berhasil menghidupkan skenario cerita dengan sangat baik. Plot-nya intense, lincah, sukses bikin saya nggak megang HP sepanjang film. Lucunya lumayan lah tapi dramanya dapet banget.


Saturday, February 11, 2017

Banyuwangi, Surga Kecil yang Tersembunyi






Waktu pertama kali saya akan travelling ke Banyuwangi, tempat pertama yang masuk bucket list saya adalah kawah ijen dan blue fire-nya yang terkenal. Selain kedua tempat itu, saya sama sekali belum punya bayangan ada tempat menarik apa sih di Banyuwangi. Jadi ketika ternyata saya batal menikmati golden sunrise ijen karena tidak ada jadwal open trip di waktu keberangkatan saya (iya lah berangkatnya bukan musim liburan) dan merasa kemahalan kalau pake private trip, saya pun cari alternatif lain yaitu explore pantai di Banyuwangi.

Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung paling timur pulau Jawa. Di sini terdapat pelabuhan Ketapang, yang merupakan perhubungan utama antara Pulau Jawa dan Bali (pelabuhan Gilimanuk).
Akses menuju Banyuwangi sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi karena tidak ada kereta langsung dari Jakarta atau Bandung, jadi beberapa alternatif pilihannya kamu bisa transit di Jogja, Surabaya atau Malang. Saya berangkat ke Banyuwangi dari Surabaya dengan kereta paling pagi menuju Banyuwangi. Sampai di stasiun Karang Asem Banyuwangi sekitar jam empat sore. Di sana kami sudah menyewa motor di banyuwangi adventura yang letak kantornya pas di depan stasiun Karang Asem. Dari sana kami langsung menuju hotel tempat kami menginap di New Surya Hotel di daerah Jajag.

Besoknya, saya dan partner traveling saya @tha_nte menuju  destinasi pertama kami, teluk hijau. Pantai Teluk Hijau ini lokasinya di area Taman Nasional Meru Betiri, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi. Jaraknya dari kota Banyuwangi sekitar 90 KM. Kalau dari hotel tempat kami menginap sekitar 50 KM atau kurang lebih 2 jam naik motor.

Untuk menuju teluk hijau bisa melalui jalur darat atau naik perahu dari pantai Rajegwesi. Kalau kamu berencana pergi ke teluk hijau, sebaiknya memilih waktu pagi hari. Karena selain jarak tempuhnya yang lumayan, nanti kamu akan memasuki kawasan perkebunan yang cukup sepi. Nggak kebayang kan kalau pulangnya terlalu sore, pasti gelap dan agak serem juga. Dari kota sampai kawasan perkebunan jalannya bagus dan diaspal. Tapi sesudah melewati kawasan perkebunan jalannya lumayan rusak. Siap-siap offroad ya gaess.

Jalan di area perkebunan, jalannya masih bagus

sisanya siap-siap offroad di jalan berlubang kaya gini

Sampai di Rajegwesi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 2 KM menuju teluk hijau, atau bisa juga naik ojek atau melalui jalur laut dengan naik perahu. Saya sempat sih coba lanjut naik motor sendiri dan berakhir dengan balik lagi ke tempat sewa perahu karena jalannya rusak parah. Nyerah deh, mending sewa perahu aja. Sewa perahu di sini nggak mahal kok. Cukup dengan membayar Rp. 35.000/ orang untuk pulang pergi dari Rajegwesi-Teluk Hijau.

nunggu perahu siap di pantai Rajegwesi sambil foto-foto :)

this is it..teluk hijau (plus perahu yang kami tumpangi)

Semua perjalanan yang  melelahkan tadi terbayar sudah ketika kami sampai di teluk hijau. Pantainya bersih banget, tenang, sepi (ini beneran sepi, cuma ada saya dan @tha_nte sama tukang perahunya, dan beberapa wisatawan lain yang sudah sampai duluan di sana. Jadi serasa pantai punya sendiri). Gradasi warna air lautnya yang biru kehijauan dengan hamparan batu-batu karang menghasilkan pemandangan yang oh so breathtaking. Ditambah lagi air terjun setinggi 8 meter di dekat pantai, keren banget.






nah ini air terjunnya, semoga keliatan hehe..

Ada sedikit cerita seru waktu saya traveling ke teluk hijau ini. Kami sempet nyasar beberapa kali karena GPS kami kehilangan sinyal. Tanya penduduk pun agak sulit karena jalan menuju teluk hijau memang sepi penduduk. Sekalinya nemu penduduk mereka akan memberi petunjuk seperti “terus aja jalan ke arah selatan” atau “udah deket mbak, pantainya di sebelah selatan.” Buat yang buta arah kaya saya dan terlalu mengandalkan GPS jadi lumayan kerepotan deh. Ditambah petunjuk jalan yang memang tidak terlalu banyak. Jadi buat kamu yang memang ada rencana ke teluk hijau dengan kendaraan pribadi, preparation itu penting. Kalau perlu ya bawa peta dan kompas sekalian.

Note :
  • Waktu masuk area perkebunan yang menjadi satu-satunya jalan menuju Teluk Hijau, kamu wajib lapor dan mengisi buku tamu. Begitu juga ketika pulang, kamu wajib lapor kembali. Kata penjaga pos, tujuan lapor ini sih untuk mencegah ada pengunjung yang tersesat dan belum kembali setelah hari gelap.
  • HTM masuk teluk hijau Rp. 6.000,-/ orang
  • Ada banyak pohon buah naga di sepanjang jalan menuju Teluk Hijau. Kalau lagi musim, penduduk sekitar menjualnya dengan harga murah. Lumayan kan cukup dengan Rp. 5.000/ kg sudah dapat buah naga yang segar-segar.

Setelah puas di teluk hijau, kami melanjutkan perjalanan ke pantai mustika dan pantai pulau merah. Pantai pulau merah dan mustika ini masih satu garis pantai dan letaknya tidak berjauhan. Perjalanan menuju kedua pantai ini tidak se-ekstrim seperti perjalanan ke teluk hijau tadi. Kedua pantai ini memiliki kecantikannya masing-masing. Pulau merah yang memikat dengan bentuknya yang menyerupai pegunungan di tengah pantai. Di Pantai Pulau Merah juga ombaknya lumayan besar sehingga cocok bagi para penggemar surfing. Sementara di Pantai Mustika, ombaknya relatif aman untuk berenang. Pasirnya putih dan relatif masih cukup bersih. Paling enak duduk santai di saung-saung yang disewakan di pinggir pantai dan minum es kelapa muda.

pantai pulau merah dan bukitnya yang ada di tengah laut

in frame : @tha_nte
Note :
  • HTM pantai pulau merah Rp. 8.000,-/ orang, belum termasuk parkir
  • Menurut penduduk sekitar, Pantai Pulau Merah adalah tempat yang paling pas untuk menikmati sunset.

Hari ke – 2
Hari ke-2 sekaligus jadi hari terakhir saya di Banyuwangi. Iya saya memang ngga spent waktu lama di Banyuwangi mengingat jadwal trip saya sebelumnya yang sudah lumayan panjang (masa iya kan nggak pulang-pulang). Jadi ke Banyuwangi ini ibaratnya Cuma singgah sebentar, mumpung saya lagi ada di Surabaya.  Meskipun agak menyesal juga sih karena ternyata Banyuwangi masih punya banyak pantai keren lainnya yang bisa di explore.

Pagi-pagi dari hotel saya langsung menuju Jawatan Benculuk. Jaraknya hanya sekitar 6 KM dari hotel saya menginap atau sekitar 15 menit naik motor. Jawatan Benculuk ini adalah sebuah hutan kecil seluas 3.8 hektar milik Perhutani. Di sini banyak tumbuh pohon-pohon Trembesi/ Saman yang berukuran besar dan tua. Seperti biasa untuk masuk area ini, kamu wajib lapor dan mengisi buku tamu. Tidak dikenakan biaya masuk dan parkir.

Jawatan Benculuk sebenarnya sudah sangat populer di kalangan masyarakat sekitar. Katanya areanya yang sejuk dengan rumput-rumput yang empuk dan berkualitas tinggi menjadikan tempat ini biasa digunakan untuk tempat piknik, olahraga, naik sepeda, sampai lokasi foto prewedding.


deretan pohon trembesi yang megah di jawatan benculuk



Tapi waktu saya ke sana, saya sama sekali nggak menemukan area piknik yang diceritakan. Rumput-rumput hijaunya nggak ada, mungkin karena musim hujan jadi yang tersisa adalah tanah basah berlumpur yang lumayan sulit untuk ditempuh naik motor. So, parkir motor di dekat pos dan jalan kaki adalah pilihan yang paling tepat. Jawatan benculuk lebih mengesankan seperti hutan kecil di tengah kota dengan pohon-pohon besar yang eksotis dan megah.

Notes :
  • Jawatan benculuk lokasinya di dekat pertigaan Benculuk yang menuju Grajakan.  Gapura masuk Jawatan hanya berjarak beberapa puluh meter dari jalan raya. Dari depan memang tidak terlihat ada hutan, tapi setelah memasuki gapura baru deh kita disambut hamparan hutan yang luas di tengah kota.
  • Ketika lapor di pos masuk, kami diingatkan untuk hati-hati di area hutan karena suka ada penduduk yang meminta uang dengan alasan biaya masuk Jawatan. Kalau bertemu dengan mereka, kami disuruh ngaku-ngaku saudaranya polisi hutan di sana. Lucu juga yaa..untung ketemu polisi hutannya baik, jadi nggak kena pungutan liar deh..
  • Di area Jawatan ada banyak kelelawar yang tinggal di bangunan lama Jawatan. Jadi jangan heran kalau dekat bangunan ini ada bau-bau yang nggak enak

Setelah puas foto-foto di Jawatan Benculuk, kami check out dari hotel New Surya dan langsung menuju stasiun Karang Asem. Saya naik kereta paling malam dari Banyuwangi ke Surabaya. Karena masih ada waktu, saya masih bisa explore pantai yang tidak terlalu jauh dari kota. Sementara barang-barang dititipkan di homestay yang juga disediakan oleh Banyuwangi Adventura.

Pilihan saya jatuh kepada Pantai Boom. Pantai ini berada di pusat kota Banyuwangi dan merupakan pantai di selat Bali. Dari pantai ini kita bisa melihat pulau Bali dari kejauhan. Mungkin karena jaraknya yang dekat dengan pusat kota, pantai ini pun cukup ramai dikunjungi oleh penduduk sekitar. Untuk pemandangannya sih masih kalah jauh dibandingkan ketiga pantai yang saya kunjungi sebelumnya. Tapi pantai ini lumayan juga kok untuk sekedar bersantai dan bermain air di pinggiran pantainya.


pintu masuk pantai Boom

payung-payung yang disewakan di pantai Boom, langsung menghadap pulau Bali.

Notes :
  • HTM pantai Boom Rp. 5.000,- /orang


Overall, perjalanan ke Banyuwangi yang lumayan penuh perjuangan terbayar sudah dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Mulai dari hamparan pegunungan, perkebunan, Taman nasional, dan pantai-pantainya yang indah. Sayang lokasi-lokasi wisatanya jaraknya berjauhan. Next time kalau ada kesempatan lagi ke Banyuwangi perlu waktu lebih lama untuk bisa explore tempat-tempat indah lainnya.

Tha..110217..3 p.m.


Thursday, January 26, 2017

Movie Review : La La Land





Lama setelah film musical favorite saya The Sound of Music dan Les Miserables kerinduan saya dengan film sejenis baru terjawab sekarang. La La Land, film drama musikal yang kemarin cukup happening karena mendominasi banyak penghargaan film internasional ini sukses mencuri perhatian.

Film ini bercerita tentang Mia (Emma Stone) seorang gadis cantik yang bercita-cita menjadi seorang aktris dan berkali-kali gagal audisi, dan Sebastian (Ryan Gosling), seorang pianis jazz idealis yang bercita-cita memiliki klub jazz-nya sendiri. Seperti kisah boys meet girls pada umumnya, Mia dan Sebastian bertemu kemudian saling jatuh cinta dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan impian masing-masing.

Alur cerita antara Mia dan Sebastian yang sederhana jadi terasa begitu istimewa karena dibalut dengan lagu-lagu yang ear catchy dan koreografi yang memukau. Emma Stone tampil stunning dengan dress-dress cantiknya, sementara Ryan Gosling, nggak usah ditanya ya, dia sih selalu drop dead gorgeus menurut saya (subjektif banget hehe..)

As cliche as it my sound, pesan film ini adalah tentang jangan menyerah untuk mengejar impian. Sama seperti Emma dan Sebastian, mungkin kita juga pernah memiliki setidaknya satu impian besar dalam hidup. Seiring berjalannya waktu, mungkin kita pernah juga gagal, berhadapan dengan realita yang memaksa kita akhirnya mempertanyakan lagi ‘Worth it nggak sih mimpi ini gue kejar?’ It sound familiar ya? Jadi rasanya sih nggak ada salahnya kita menonton film yang satu ini.


Oh ya, just for your information, film karya Damien Chazelle ini sukses meraih rekor sebagai film dengan penghargaan terbanyak sepanjang sejarah Golden Globe, dengan total 7 penghargaan. Wow banget kan..Jadi tunggu apa lagi? Segera tonton filmnya dan siap-siap dibuai oleh lantunan lagu-lagu indah dan kisah cheesy romance Mia dan Sebastian. Happy watching gaeess ^^

Tha..260117..7 p.m.


Friday, January 6, 2017

Movie Review : Cek Toko Sebelah





Cek Toko Sebelah merupakan film pertama yang saya tonton di tahun 2017, dan menjadi pembuka yang manis. Film ini sukses membuat saya percaya kalau film nasional sekarang sudah banyak kok yang bagus dan layak tonton. Jadi nggak sabar untuk nonton film Indonesia lainnya sepanjang tahun 2017 (salah duanya : #CriticalEleven & #FilosofiKopi2).

Cek Toko Sebelah bercerita tentang Koh Afuk (Chew Kin Wah) – etnis Tionghoa – yang memiliki sebuah toko kelontong dengan beberapa pegawainya. Koh Afuk memiliki dua orang anak, si sulung Yohan (Dion Wiyoko) yang sudah menikah dengan Ayu (Adinia Wirasti), dan si bungsu Erwin (Ernest Prakasa) yang sukses dengan karirnya dan berpacaran dengan Natalie (Gisella Anastasia). Konflik dimulai ketika Koh Afuk mulai sakit-sakitan dan bermaksud mewariskan usahanya justru pada Erwin anaknya yang bungsu. Yohan yang merasa lebih berhak sebagai anak sulung pun naik pitam. Sementara itu, Erwin yang sedang berada di puncak karirnya justru dibuat gamang dengan keinginan ayahnya tersebut.

Film Cek Toko Sebelah buat saya sih related banget dengan kehidupan sehari-hari . Siapa sih yang nggak familiar dengan kondisi ini, belanja ke toko kelontong/ plastik/ bahan bangunan, ada koko-koko tua yang punya toko, pas mau bayar ada anaknya jaga di kasir. Tambah lagi pegawai-pegawai tokonya yang pada keringetan ngangkut-ngangkut barang. Saya yang sejak kecil bersekolah di sekolah Kristen yang 95% anak-anaknya berasal dari etnis Tionghoa rata-rata orang tuanya memang memiliki usaha/ toko seperti Koh Afuk. Kemudian salah satu dari anaknya pasti akan mewariskan toko tersebut.

Ernest Prakasa yang kali ini terjun langsung sebagai sutradara dan penulis skenario sukses membuat alur film ini mengalir dengan apik dari awal. Balutan komedi segar pun sukses membuat saya tertawa tanpa merasa garing sedikit pun. Begitu pun nuansa drama yang disajikan, terasa pas dan cukup emosional. Nonton film ini memang benar-benar memainkan emosi, dari ketawa kemudian berkaca-kaca, terharu, tertawa lagi, kemudian sedih lagi, begitu terus dari awal tanpa merasa bosan.

Karakter-karakter di film ini diperankan dengan pas, tapi yang paling mencuri perhatian buat saya sih jelas aktingnya Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti. Beberapa kali nonton filmnya Dion belum pernah ada yang aktingnya sebagus ini. Dion sepertinya mengalami kemajuan pesat dalam kemampuannya berakting. Kalo Adinia Wirasti sih nggak usah diragukan lagi. Salah satu aktris favorit saya ini benar-benar bisa menghidupkan tokoh Ayu yang kalem, istri yang baik, dan kayanya sukses bikin standar cowok-cowok buat cari istri makin tinggi hehe..

Well, kalau ditanya adegan favorit sih, banyak.. Waktu Yohan ngomong ke Ayu, “Yang berkewajiban mewujudkan mimpi kamu itu saya, bukan orang lain.” (cewek-cewek pasti melted gimana gitu pas adegan ini). Waktu Yohan ngobrol sama Erwin di rumah sakit, dan diceritain Erwin yang sebenarnya adore sama kakak satu-satunya ini (bikin terharu gimana gitu), dan setiap kali bosnya Erwin muncul terus nyanyi (kocak banget dan jadi kebawa-bawa nyanyiin lagunya).

Overall, film dengan tema keluarga selalu menjadi favorit saya. Coz Family is not an important thing, it is everything. Buat ko @ernestprakasa, cc @meiraa_, dan cc @JennyJusuf yang juga ikut terlibat dalam pembuatan script film Cek Toko Sebelah, bravo buat kerja kerasnya. Karya yang dibuat tulus dari hati pada akhirnya sampai juga ke hati ^^  


Tha..060117..3 p.m.