Saturday, February 11, 2017

Banyuwangi, Surga Kecil yang Tersembunyi






Waktu pertama kali saya akan travelling ke Banyuwangi, tempat pertama yang masuk bucket list saya adalah kawah ijen dan blue fire-nya yang terkenal. Selain kedua tempat itu, saya sama sekali belum punya bayangan ada tempat menarik apa sih di Banyuwangi. Jadi ketika ternyata saya batal menikmati golden sunrise ijen karena tidak ada jadwal open trip di waktu keberangkatan saya (iya lah berangkatnya bukan musim liburan) dan merasa kemahalan kalau pake private trip, saya pun cari alternatif lain yaitu explore pantai di Banyuwangi.

Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung paling timur pulau Jawa. Di sini terdapat pelabuhan Ketapang, yang merupakan perhubungan utama antara Pulau Jawa dan Bali (pelabuhan Gilimanuk).
Akses menuju Banyuwangi sebenarnya tidak terlalu sulit, tapi karena tidak ada kereta langsung dari Jakarta atau Bandung, jadi beberapa alternatif pilihannya kamu bisa transit di Jogja, Surabaya atau Malang. Saya berangkat ke Banyuwangi dari Surabaya dengan kereta paling pagi menuju Banyuwangi. Sampai di stasiun Karang Asem Banyuwangi sekitar jam empat sore. Di sana kami sudah menyewa motor di banyuwangi adventura yang letak kantornya pas di depan stasiun Karang Asem. Dari sana kami langsung menuju hotel tempat kami menginap di New Surya Hotel di daerah Jajag.

Besoknya, saya dan partner traveling saya @tha_nte menuju  destinasi pertama kami, teluk hijau. Pantai Teluk Hijau ini lokasinya di area Taman Nasional Meru Betiri, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi. Jaraknya dari kota Banyuwangi sekitar 90 KM. Kalau dari hotel tempat kami menginap sekitar 50 KM atau kurang lebih 2 jam naik motor.

Untuk menuju teluk hijau bisa melalui jalur darat atau naik perahu dari pantai Rajegwesi. Kalau kamu berencana pergi ke teluk hijau, sebaiknya memilih waktu pagi hari. Karena selain jarak tempuhnya yang lumayan, nanti kamu akan memasuki kawasan perkebunan yang cukup sepi. Nggak kebayang kan kalau pulangnya terlalu sore, pasti gelap dan agak serem juga. Dari kota sampai kawasan perkebunan jalannya bagus dan diaspal. Tapi sesudah melewati kawasan perkebunan jalannya lumayan rusak. Siap-siap offroad ya gaess.

Jalan di area perkebunan, jalannya masih bagus

sisanya siap-siap offroad di jalan berlubang kaya gini

Sampai di Rajegwesi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 2 KM menuju teluk hijau, atau bisa juga naik ojek atau melalui jalur laut dengan naik perahu. Saya sempat sih coba lanjut naik motor sendiri dan berakhir dengan balik lagi ke tempat sewa perahu karena jalannya rusak parah. Nyerah deh, mending sewa perahu aja. Sewa perahu di sini nggak mahal kok. Cukup dengan membayar Rp. 35.000/ orang untuk pulang pergi dari Rajegwesi-Teluk Hijau.

nunggu perahu siap di pantai Rajegwesi sambil foto-foto :)

this is it..teluk hijau (plus perahu yang kami tumpangi)

Semua perjalanan yang  melelahkan tadi terbayar sudah ketika kami sampai di teluk hijau. Pantainya bersih banget, tenang, sepi (ini beneran sepi, cuma ada saya dan @tha_nte sama tukang perahunya, dan beberapa wisatawan lain yang sudah sampai duluan di sana. Jadi serasa pantai punya sendiri). Gradasi warna air lautnya yang biru kehijauan dengan hamparan batu-batu karang menghasilkan pemandangan yang oh so breathtaking. Ditambah lagi air terjun setinggi 8 meter di dekat pantai, keren banget.






nah ini air terjunnya, semoga keliatan hehe..

Ada sedikit cerita seru waktu saya traveling ke teluk hijau ini. Kami sempet nyasar beberapa kali karena GPS kami kehilangan sinyal. Tanya penduduk pun agak sulit karena jalan menuju teluk hijau memang sepi penduduk. Sekalinya nemu penduduk mereka akan memberi petunjuk seperti “terus aja jalan ke arah selatan” atau “udah deket mbak, pantainya di sebelah selatan.” Buat yang buta arah kaya saya dan terlalu mengandalkan GPS jadi lumayan kerepotan deh. Ditambah petunjuk jalan yang memang tidak terlalu banyak. Jadi buat kamu yang memang ada rencana ke teluk hijau dengan kendaraan pribadi, preparation itu penting. Kalau perlu ya bawa peta dan kompas sekalian.

Note :
  • Waktu masuk area perkebunan yang menjadi satu-satunya jalan menuju Teluk Hijau, kamu wajib lapor dan mengisi buku tamu. Begitu juga ketika pulang, kamu wajib lapor kembali. Kata penjaga pos, tujuan lapor ini sih untuk mencegah ada pengunjung yang tersesat dan belum kembali setelah hari gelap.
  • HTM masuk teluk hijau Rp. 6.000,-/ orang
  • Ada banyak pohon buah naga di sepanjang jalan menuju Teluk Hijau. Kalau lagi musim, penduduk sekitar menjualnya dengan harga murah. Lumayan kan cukup dengan Rp. 5.000/ kg sudah dapat buah naga yang segar-segar.

Setelah puas di teluk hijau, kami melanjutkan perjalanan ke pantai mustika dan pantai pulau merah. Pantai pulau merah dan mustika ini masih satu garis pantai dan letaknya tidak berjauhan. Perjalanan menuju kedua pantai ini tidak se-ekstrim seperti perjalanan ke teluk hijau tadi. Kedua pantai ini memiliki kecantikannya masing-masing. Pulau merah yang memikat dengan bentuknya yang menyerupai pegunungan di tengah pantai. Di Pantai Pulau Merah juga ombaknya lumayan besar sehingga cocok bagi para penggemar surfing. Sementara di Pantai Mustika, ombaknya relatif aman untuk berenang. Pasirnya putih dan relatif masih cukup bersih. Paling enak duduk santai di saung-saung yang disewakan di pinggir pantai dan minum es kelapa muda.

pantai pulau merah dan bukitnya yang ada di tengah laut

in frame : @tha_nte
Note :
  • HTM pantai pulau merah Rp. 8.000,-/ orang, belum termasuk parkir
  • Menurut penduduk sekitar, Pantai Pulau Merah adalah tempat yang paling pas untuk menikmati sunset.

Hari ke – 2
Hari ke-2 sekaligus jadi hari terakhir saya di Banyuwangi. Iya saya memang ngga spent waktu lama di Banyuwangi mengingat jadwal trip saya sebelumnya yang sudah lumayan panjang (masa iya kan nggak pulang-pulang). Jadi ke Banyuwangi ini ibaratnya Cuma singgah sebentar, mumpung saya lagi ada di Surabaya.  Meskipun agak menyesal juga sih karena ternyata Banyuwangi masih punya banyak pantai keren lainnya yang bisa di explore.

Pagi-pagi dari hotel saya langsung menuju Jawatan Benculuk. Jaraknya hanya sekitar 6 KM dari hotel saya menginap atau sekitar 15 menit naik motor. Jawatan Benculuk ini adalah sebuah hutan kecil seluas 3.8 hektar milik Perhutani. Di sini banyak tumbuh pohon-pohon Trembesi/ Saman yang berukuran besar dan tua. Seperti biasa untuk masuk area ini, kamu wajib lapor dan mengisi buku tamu. Tidak dikenakan biaya masuk dan parkir.

Jawatan Benculuk sebenarnya sudah sangat populer di kalangan masyarakat sekitar. Katanya areanya yang sejuk dengan rumput-rumput yang empuk dan berkualitas tinggi menjadikan tempat ini biasa digunakan untuk tempat piknik, olahraga, naik sepeda, sampai lokasi foto prewedding.


deretan pohon trembesi yang megah di jawatan benculuk



Tapi waktu saya ke sana, saya sama sekali nggak menemukan area piknik yang diceritakan. Rumput-rumput hijaunya nggak ada, mungkin karena musim hujan jadi yang tersisa adalah tanah basah berlumpur yang lumayan sulit untuk ditempuh naik motor. So, parkir motor di dekat pos dan jalan kaki adalah pilihan yang paling tepat. Jawatan benculuk lebih mengesankan seperti hutan kecil di tengah kota dengan pohon-pohon besar yang eksotis dan megah.

Notes :
  • Jawatan benculuk lokasinya di dekat pertigaan Benculuk yang menuju Grajakan.  Gapura masuk Jawatan hanya berjarak beberapa puluh meter dari jalan raya. Dari depan memang tidak terlihat ada hutan, tapi setelah memasuki gapura baru deh kita disambut hamparan hutan yang luas di tengah kota.
  • Ketika lapor di pos masuk, kami diingatkan untuk hati-hati di area hutan karena suka ada penduduk yang meminta uang dengan alasan biaya masuk Jawatan. Kalau bertemu dengan mereka, kami disuruh ngaku-ngaku saudaranya polisi hutan di sana. Lucu juga yaa..untung ketemu polisi hutannya baik, jadi nggak kena pungutan liar deh..
  • Di area Jawatan ada banyak kelelawar yang tinggal di bangunan lama Jawatan. Jadi jangan heran kalau dekat bangunan ini ada bau-bau yang nggak enak

Setelah puas foto-foto di Jawatan Benculuk, kami check out dari hotel New Surya dan langsung menuju stasiun Karang Asem. Saya naik kereta paling malam dari Banyuwangi ke Surabaya. Karena masih ada waktu, saya masih bisa explore pantai yang tidak terlalu jauh dari kota. Sementara barang-barang dititipkan di homestay yang juga disediakan oleh Banyuwangi Adventura.

Pilihan saya jatuh kepada Pantai Boom. Pantai ini berada di pusat kota Banyuwangi dan merupakan pantai di selat Bali. Dari pantai ini kita bisa melihat pulau Bali dari kejauhan. Mungkin karena jaraknya yang dekat dengan pusat kota, pantai ini pun cukup ramai dikunjungi oleh penduduk sekitar. Untuk pemandangannya sih masih kalah jauh dibandingkan ketiga pantai yang saya kunjungi sebelumnya. Tapi pantai ini lumayan juga kok untuk sekedar bersantai dan bermain air di pinggiran pantainya.


pintu masuk pantai Boom

payung-payung yang disewakan di pantai Boom, langsung menghadap pulau Bali.

Notes :
  • HTM pantai Boom Rp. 5.000,- /orang


Overall, perjalanan ke Banyuwangi yang lumayan penuh perjuangan terbayar sudah dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Mulai dari hamparan pegunungan, perkebunan, Taman nasional, dan pantai-pantainya yang indah. Sayang lokasi-lokasi wisatanya jaraknya berjauhan. Next time kalau ada kesempatan lagi ke Banyuwangi perlu waktu lebih lama untuk bisa explore tempat-tempat indah lainnya.

Tha..110217..3 p.m.