Friday, May 5, 2017

Serunya Naik Kapal Pelni ke Makassar






“Tiketnya belum dicap, Mbak. Harus dicap dulu di loket depan.” Kata bapa yang memeriksa tiket di depan pintu kapal. Melawan rasa lelah dan mengabaikan kerumunan tukang ojek yang langsung berebut menawarkan jasanya untuk mengantar saya ke loket depan yang berjarak kurang lebih 500 meter dari kapal, saya pun memutuskan untuk berjalan kembali ke loket. Padahal saya sudah melewati loket tadi, tapi tidak adanya petugas yang memberi tahu membuat saya dan Martha harus bolak-balik. Dengan ransel seberat hampir 9 kilo yang saya bawa, tergoda sebenarnya menggunakan ojek atau jasa porter yang ramai di pelabuhan. Tapi sebagai traveler BPJS (Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita), saya harus menahan diri dari pengeluaran-pengeluaran ‘manja’ yang sebetulnya bisa dihindari.

Naik kapal Pelni dari Labuan Bajo ke Makasar ini pun merupakan siasat untuk membuat perjalanan saya lebih murah dan karena penasaran juga ingin tahu gimana rasanya naik kapal besar, berlayar lintas pulau.

Jadi gimana rasanya naik kapal Pelni selama 18 jam?? Ini dia ceritanya :

Senengnya :
1.     Kapal yang saya tumpangi namanya Binaiya, kapalnya bagus, besar, dan masih terawat dengan baik. Kalau denger dari cerita beberapa teman, ternyata masih banyak kapal Pelni yang kurang terawat. Belum lagi kalau lagi peak season, kaya musim mudik lebaran, penumpangnya suka over capacity. Jadi jangan harap dapet tempat tidur yang nyaman, buat duduk aja pada ngampar.

Kapalnya lumayan bagus kan? mirip-mirip Titanic lah hehe..

2.       Ngabisin waktu lama di kapal itu bisa nemu sunrise atau sunset yang cantik di tengah laut. Kapan lagi, kan?
3.       Bisa ketemu banyak orang baru, dengan berbagai cerita. Beda sama di pesawat atau di kereta, di kapal saya bisa jalan-jalan, memperhatikan bagaimana orang-orang menghabiskan waktu tanpa sinyal telepon dan berinteraksi langsung, memperhatikan para pedagang yang tidak kenal lelah terus berkeliling kapal menawarkan dagangannya, dan menikmati me time saya di bagian atas kapal hanya ditemani suara air laut. Dan ini tentu saja semakin membuka mata saya untuk melihat kehidupan.



Sebelnya :
1.       Ini antara sebel dan heran sih, perlakuan crew kapal sama para penumpang kurang ramah menurut saya. Entah karena kami memang di kelas ekonomi yang super murah atau memang hanya perasaan saya saja, tapi crew kapal terkesan galak sama penumpang. Mulai dari teriakan yang lebih mirip bentakan supaya kami cepat-cepat antri dan ambil jatah makanan. Cara minta tiket waktu pemeriksaan, bikin saya berasa kaya imigran gelap yang lagi ada di kapal pengungsian deh.
2.        Nasi ikan yang rasanya agak traumatis. Jadi ceritanya harga tiket untuk kelas ekonomi tuh sudah termasuk jatah satu kali makan. Makanannya biskuit dan nasi plus sayur plus ikan secuil. Nggak usah ditanya rasanya yah, bikin langsung mabok hehe..Rasain aja deh nasi yang banyak batu dan kutunya dengan sayur hambar dan ikan yang agak pahit. Gimana nggak traumatis coba?

Nasi ikan yang rasanya bikin traumatis

3.    Biarpun di tiket ada nomor deck kapal dan nomor tempat tidurnya, semua orang boleh ambil tempat sesukanya. Prinsipnya sih siapa cepat dia dapat. Untungnya saya sudah sampai dari 4 jam sebelum kapal berangkat, jadi bisa pilih tempat yang lumayan nyaman. Untungnya lagi kapal lagi nggak terlalu penuh, karena kalau lagi penuh-penuhnya kadang kita bisa liat orang tidur bergeletakan di mana aja.



Note :
·      Tiket PELNI KM Binaiya Labuan Bajo – Makassar Harganya Rp. 161.000,- Untuk kamu yang ada rencana untuk naik kapal Pelni, harap sabar karena beli tiket kapal ini susahnya bukan main. Di saat beli tiket pesawat atau kereta sekarang sudah sangat mudah secara online, tidak demikian dengan tiket kapal. Kamu harus datang langsung ke pelabuhan untuk cek jadwal dan beli tiket. Cek jadwal sudah bisa lewat website, tapi sayangnya jadwalnya seringkali kurang update.
·     Jangan lupa bawa bekal cukup untuk di kapal. Jaga-jaga kalau kamu juga nggak cocok dengan nasi ikan yang rasanya bikin traumatis tadi, ada baiknya kamu bawa bekal yang cukup, seperti abon, sambal, kerupuk atau mie instan. Beli makan di kapal bisa sih, tapi harganya lumayan mahal
·    Karena selama di kapal nggak ada sinyal, nggak ada salahnya bawa buku, musik, atau film yang bisa ditonton di HP untuk mengusir kebosanan. Nggak usah khawatir dengan colokan, disediakan di setiap tempat tidur.
·  Hati-hati dengan barang bawaan. Kalau kamu solo traveling, lebih baik selalu bawa barang berharga ke mana-mana.


Biarpun Cuma 18 jam (nggak nyampe 5 hari kaya kalo berangkat dari Jawa ke Papua sih), tapi naik kapal Pelni jadi cerita seru tersendiri. Jadi gimana, mau coba naik kapal??