Friday, July 7, 2017

Menelusuri Indahnya Desa Tenganan, Bali





Terakhir kali saya jalan-jalan ke Bali beberapa waktu yang lalu, saya banyak nyobain hal baru. Mulai dari berburu seafood di pasar yang sudah saya ceritakan di sini, dan mengunjungi salah satu desa tradisional di Bali, yaitu desa Tenganan. Terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem atau berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Denpasar, Desa Tenganan merupakan salah satu desa dari tiga desa Bali Aga, selain Trunyan dan Sembiran.

Bali Aga atau Bali asli adalah desa yang masih mempertahankan pola hidup tradisional yang diwariskan nenek moyang mereka. Bentuk dan besar bangunannya, pengaturan letak bangunan hingga letak pura dibuat dengan mengikuti aturan adat secara turun temurun (source : wikipedia).



Pura Gaduh di Desa Tenganan

Memasuki kawasan desa Tenganan, saya disambut dengan suasana yang sejuk, asri, dan damai. Desa Tenganan ini bukan desa yang gede-gede amat kok, kurang dari satu jam kamu sudah bisa mengelilingi seluruh area desa. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani padi dan membuat aneka kerajinan seperti lukisan di atas daun lontar, kerajinan dari telur, ukiran kayu dan kain geringsing.

Pak Made sedang membuat lukisan di atas daun lontar. Lukisannya dibuat dengan pisau dan diberi warna dengan menggunakan arang.

Ini dia hasilnya. Bisa request ditulisin nama kita. Harganya untuk pembatas buku seperti ini Rp. 75.000,- Kalau main ke sini jangan lupa beli, ya :)

Egg Painting juga  merupakan salah satu kerajinan warga desa Tenganan

Saya sempat ngobrol dengan Pak Made, salah satu pengrajin lukisan di atas daun lontar. Katanya Desa Tenganan ini memang belum seterkenal desa-desa wisata lainnya di Bali, tapi setiap tahunnya pengunjungnya terus bertambah. Penduduk di sini juga masih memegang adat dengan menikah antar sesama warga desa. Bahkan sebagian besar penduduknya juga masih menggunakan sistem barter untuk jual beli. Keren ya, di tengah kemajuan pariwisata Bali yang semakin ramai dengan wisatawan asing, banyaknya beach club dan cafe-cafe yang hits di Bali, tapi masih ada desa yang tetap bertahan dengan adatnya.

Ini foto di area pekarangan rumah warga. Pekarangannya gede-gede gini, nggak ada pagar dan pembatas. Ayam dan kerbau milik warga juga dibiarkan berkeliaran bebas.

Sambil menunggu lukisan daun lontar saya dibuatkan oleh Pak Made, beliau bercerita lagi kalau penduduk di sini biasanya ke luar setiap sore hari, berkumpul di depan rumah masing-masing atau di pendopo. Biasanya sekitar bulan Juni diadakan upacara adat pesta perang pandan. Kayanya seru banget, sayang saya belum sempat ke sini saat upacara berlangsung.

Tradisi Perang Pandan di Desa Tenganan. (source pic : wego.co.id)

Di desa Tenganan belum tersedia penginapan atau homestay, juga tidak ada kendaraan umum untuk menuju ke sana. Jadi kalau kamu mau berkunjung ke desa ini, perlu menyewa motor atau mobil pribadi.

Oh ya, untuk masuk area desa Tenganan tidak dikenakan biaya tiket masuk. Di loket pintu masuk kita hanya diminta memberikan sumbangan sukarela kepada petugas.

Senang rasanya punya kesempatan bisa berkunjung ke desa Tenganan, semoga suatu saat bisa ke sini lagi terutama ketika ada upacara adatnya. Kalau kamu gimana? Yuk berkunjung juga ke desa Tenganan.