Friday, August 4, 2017

Indahnya Danau Kelimutu yang Mendunia






Danau Kelimutu yang pernah jadi gambar di uang pecahan lima ribu rupiah edisi lama menjadi salah satu bucket list tempat yang ingin saya kunjungi. Beruntung, ketika melakukan perjalanan #exploreflores beberapa waktu yang lalu, impian saya untuk jalan-jalan ke Danau Kelimutu akhirnya terwujud.

Melawan rasa dingin yang menusuk, mengabaikan kaki yang masih lelah setelah perjalanan panjang sebelumnya, saya pun bersiap untuk menyambut matahari terbit di Danau Kelimutu.

Keunikan Danau Kelimutu
Danau Kelimutu atau yang dikenal juga dengan sebutan Danau Tiga Warna, terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende. Disebut Danau Tiga Warna karena Danau ini memiliki tiga warna yang berbeda. Waktu saya ke sana, Danau Kelimutu sedang berwarna hijau tosca, hijau tua, dan hitam pekat. Konon katanya warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Ada yang bilang warna danau mencerminkan kondisi negara kita, Indonesia. Jika berwarna merah berarti negara kita sedang dalam masalah. Namun jika berwarna biru, negara kita sedang dalam kondisi yang stabil.

Berdasarkan penjelasan ilmiah, warna di Danau Kelimutu yang berubah-ubah ini dipengaruhi oleh kandungan mineral, pengaruh bebatuan, lumut di dalam kawah, dan cahaya matahari. Sementara itu, suku Lio di Flores percaya bahwa Danau Kelimutu merupakan tempat persemayaman terakhir dari jiwa-jiwa yang sudah meninggal.

Rute menuju Danau Kelimutu
Dari Jakarta kita bisa menggunakan penerbangan terlebih dahulu ke Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur (Bandara El Tari) kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke Ende (Bandara H Hasan Aroeboesman). Setibanya di Ende, perjalanan dilanjutkan bisa dengan menggunakan angkutan umum berupa taksi avanza, minibus, atau ojek menuju Moni. Desa Moni merupakan desa terdekat dengan Danau Kelimutu. Jangan kaget ketika sampai di Ende, kita akan disambut oleh penduduk lokal yang menawarkan jasanya untuk mengantar kita ke Moni. Tinggal pilih-pilih yang paling nyaman dan sesuai budget ya. Saya menggunakan taksi avanza dengan biaya Rp. 150.000,- sekali jalan. Siap-siap juga menikmati perjalanan Ende-Kelimutu yang berkelok-kelok dan curam. Pemandangan tebing-tebing, jurang, dan hutan akan kita lihat sepanjang jalan.

Sedikit Cerita Perjalanan ke Danau Kelimutu
Ada beberapa pilihan untuk mengejar sunrise di Danau Kelimutu. Pilihan pertama adalah menginap di Ende dan menyewa mobil langsung ke Danau Kelimutu. Ini berarti kkita harus berangkat dari Ende sekitar jam 1 pagi. Pilihan kedua adalah menginap di Moni. Butuh waktu sekitar 30 menit berkendara dari Moni menuju pintu masuk pendakian Taman Nasional Kelimutu. Sudah ada banyak homestay dan penginapan di Moni dengan harga yang relatif terjangkau. Dari Moni kita bisa sewa motor, sewa mobil, atau naik ojek menuju Danau Kelimutu.

Saya memilih alternatif yang kedua untuk menghemat waktu. Sehari sebelumnya saya menginap di Christin Lodge, di Moni seharga Rp. 200.000,- /malam. Sekitar pukul 3 pagi, saya sudah bersiap-siap untuk memulai perjalanan ke Danau Kelimutu. Dengan bantuan Bapak pemilik penginapan, yang juga mengantarkan saya dari Ende ke Moni, saya cukup membayar Rp. 150.000,- untuk PP Moni-Kelimutu dengan menggunakan mobil.

Sesampainya di pintu masuk, kita perlu membayar HTM Rp. 5000/ orang untuk wisatawan lokal. Jarak tempuh menuju puncak sekitar 2 KM atau sekitar 30 menit berjalan kaki. Waktu saya ke sana tidak ada guide lokal yang menemani. Untungnya ketika saya datang ada beberapa turis asing yang juga akan mengejar sunrise, jadi kami pergi bersama berbekal senter kecil dan cahaya dari HP masing-masing. Jalur menuju puncak juga tidak sulit. Jalannya sudah baik dengan papan-papan petunjuk jalan yang jelas.


Jalur yang dilalui menuju puncak


Danau yang pertama kita jumpai adalah Tiwu Ata Polo, danau yang diyakini tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup melakukan kejahatan/ tenung. Selanjutnya ada Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai merupakan tempat berkumpulnya jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Yang ketiga adalah Danau Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya roh-roh leluhur atau orang tua yang telah meninggal. Setiap tahunnya di Danau Kelimutu diadakan ritual adat Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata yaitu ritual untuk mengucap syukur atas tahun yang telah dilewati dan memohon berkat untuk tahun yang akan datang.

Tiwu Ata Mbupu

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai & Tiwu Ata Polo

 pedagang di area Danau Kelimutu

Sambil menunggu matahari terbit, kita bisa menyeruput secangkir kopi atau minuman hangat lainnya yang banyak dijual penduduk setempat di area sekitar danau. Dengan harap-harap cemas, saya menunggu matahari menampakkan wajahnya. Namun sayang, pagi itu agak mendung, sang surya pun tertutup awan dan kabut masih menyelimuti Danau Kelimut. Saya hampir saja kecewa. Tapi rupanya setiap langkah yang membawa saya ke Danau Kelimutu tidak sia-sia. Perlahan semburat jingga mulai terlihat di langit. Kabut tipis pun hilang dan memperlihatkan kemilau danau yang memantulkan cahaya mentari. Sang Surya telah menyapa dan memberi rasa hangat hingga ke hati, menyajikan pemandangan Danau Tiga Warna yang mempesona.


Selamat Pagi Kelimutu! Selamat Pagi Indonesia!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Travel Blogger Contest yang diadakan oleh www.sumber.com